Tugas Rumah Adalah Nutrisi Kognitif bagi Anak 6–12 Tahun
Dipublikasikan: Minggu, 22 Februari 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Banyak orang tua menganggap tugas rumah tangga (chores) sebagai beban tambahan yang bisa mengganggu waktu belajar anak. Namun, riset dari Harvard Grant Study—salah satu studi longitudinal terlama di dunia—menemukan kesimpulan menarik: Prediktor kesuksesan seseorang di masa dewasa bukan berasal dari nilai akademik semata, melainkan dari apakah mereka mengerjakan tugas rumah tangga saat kecil.
Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah adalah bentuk stimulasi nyata yang membangun struktur otak dan karakter yang tidak bisa digantikan oleh bimbingan belajar manapun.
Mengapa Harus Tugas Rumah?
- Membangun Fungsi Eksekutif Otak: Fungsi eksekutif adalah "CEO" di dalam otak yang mengatur perencanaan, pengorganisasian, dan eksekusi tugas. Saat anak diminta merapikan kamar, otak mereka belajar memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil (misal: memisahkan baju kotor, merapikan buku, lalu menyapu).
- Melatih Working Memory (Memori Kerja): Mengingat instruksi bertahap (seperti: "Buang sampah, ganti plastiknya, lalu cuci tangan") melatih anak menyimpan dan mengolah informasi dalam jangka pendek—keterampilan krusial untuk memahami logika matematika dan bahasa.
- Menumbuhkan "Self-Efficacy" (Keyakinan Diri): Anak yang merasa mampu menyelesaikan tugas domestik akan memiliki kepercayaan diri bahwa mereka bisa memberikan kontribusi nyata bagi lingkungannya. Ini adalah fondasi mental tangguh saat menghadapi tantangan di sekolah atau dunia kerja.
Daftar Tugas & Alasan Perkembangannya (Usia 6–12 Tahun)
| Jenis Tugas | Kenapa Tugas Ini? | Manfaat bagi Masa Depan |
| Menyortir & Melipat Pakaian | Melatih kemampuan klasifikasi, pengenalan pola, dan motorik halus. | Kemampuan organisasi data dan ketelitian dalam bekerja. |
| Membantu Memasak (Menimbang/Memotong/Mengukur) | Belajar konsep pengukuran (matematika praktis) dan pemecahan masalah. | Kemampuan berpikir logis dan kemandirian dasar hidup (survival skill). |
| Membersihkan Meja/Lantai | Memahami konsep kebersihan ruang dan tanggung jawab atas tindakan sendiri. | Disiplin diri dan kesadaran akan standar kualitas hasil kerja. |
| Merawat Tanaman/Hewan Peliharaan | Membangun empati dan pemahaman akan konsekuensi (jika tidak disiram, tanaman layu). | Kepemimpinan (leadership) dan rasa tanggung jawab sosial. |
Apa Gunanya bagi Masa Depan Anak?
Anak-anak yang terbiasa mengerjakan tugas rumah tangga akan tumbuh dengan pola pikir "I can do it" dan "How can I contribute?". Di dunia kerja masa depan, mereka cenderung:
- Lebih kolaboratif karena paham bahwa sebuah sistem (keluarga/kantor) berjalan berkat kerja sama tim.
- Memiliki inisiatif tinggi tanpa harus selalu menunggu instruksi.
- Lebih tangguh saat menghadapi kegagalan karena terbiasa dengan proses "mencoba-salah-perbaiki" saat belajar melakukan tugas rumah.
Tips untuk Orang Tua:
- Fokus pada Kontribusi, Bukan Kesempurnaan: Jika lantai masih sedikit berdebu setelah mereka sapu, jangan langsung dikritik. Hargai kemauan mereka untuk berkontribusi.
- Jadikan Rutinitas: Konsistensi adalah kunci pembentukan jalur saraf di otak.
- Penjelasan "Mengapa": Jelaskan bahwa mereka membantu agar rumah nyaman untuk semua orang, bukan karena mereka sedang "dihukum".
Foto: Nicola Barts/Pexels.com
Referensi:
- Harvard University. (2023). The Grant Study: Success and Childhood Chores. Harvard Gazette.
- Rossmann, M. I. (2002). Involvement in Household Chores for Children and Adolescents. University of Mississippi.
- Center on the Developing Child at Harvard University. (2025). Building the Brain's "Air Traffic Control" System: How Early Experiences Shape the Development of Executive Function.
- Ginsburg, K. R. (2024). Building Resilience in Children and Teens. American Academy of Pediatrics.