Unstructured Play Lebih Powerful Ketimbang Les Dini

Dipublikasikan: Jumat, 13 Februari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Di era kompetisi yang semakin ketat, banyak orang tua merasa khawatir jika si Kecil tertinggal. Akibatnya, jadwal anak usia dini kini dipenuhi dengan les baca-tulis-hitung (calistung), kursus bahasa asing, hingga kelas keterampilan tambahan. Namun, riset dalam psikologi perkembangan anak menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: Bermain bebas (unstructured play) justru lebih efektif membangun kecerdasan dan kreativitas dibandingkan instruksi akademik yang terlalu dini.

Apa Itu Bermain Bebas?

Bermain bebas adalah aktivitas bermain yang muncul dari inisiatif anak sendiri, tanpa instruksi dari orang dewasa, tanpa tujuan akhir yang ditetapkan, dan tanpa bantuan gadget. Contohnya adalah bermain masak-masakan dengan pasir, menyusun balok tanpa pola, atau sekadar berimajinasi menjadi pahlawan super.

Mengapa Bermain Bebas Lebih Unggul dari Les Dini?

  1. Membangun Fungsi Eksekutif Otak: Saat bermain bebas, anak belajar merencanakan, memecahkan masalah, dan bernegosiasi dengan teman sebaya. Kemampuan ini jauh lebih penting daripada sekadar menghafal huruf atau angka.
  2. Kreativitas Tanpa Batas: Dalam kelas akademik, sering kali hanya ada satu jawaban benar. Namun dalam bermain, sebuah kardus bekas bisa menjadi pesawat, rumah, atau kapal selam. Ini melatih fleksibilitas kognitif yang merupakan akar dari inovasi.
  3. Kecerdasan Emosional (EQ): Melalui bermain peran, anak belajar empati dan memahami perspektif orang lain (keterampilan sosial yang sulit didapatkan dari lembar kerja/worksheets).
  4. Mengurangi Stres dan Kelelahan Mental: Memaksa anak melakukan tugas akademik sebelum kematangan syarafnya tercapai dapat memicu stres dini yang justru menghambat nafsu belajar mereka di masa depan.

Menemukan Keseimbangan: Bermain vs Akademik

Memberikan les akademik tidak sepenuhnya salah, namun proporsinya harus tepat. Untuk anak usia prasekolah (di bawah 6 tahun), dunia mereka adalah dunia bermain. Keberhasilan akademik di masa depan tidak ditentukan oleh seberapa cepat mereka bisa membaca di usia 4 tahun, melainkan seberapa kuat rasa ingin tahu dan kepercayaan diri yang mereka bangun melalui bermain.

Tips untuk Mom/Dad:

  • Sediakan Waktu "Bosan": Jangan mengisi setiap menit jadwal anak. Rasa bosan adalah pemicu kreativitas anak untuk mencari cara menghibur diri mereka sendiri.
  • Kurangi Mainan Berbasis Baterai: Berikan mainan yang "terbuka" (open-ended toys) seperti balok kayu, plastisin, atau perlengkapan seni sederhana.
  • Jadilah Penonton, Bukan Sutradara: Saat anak bermain, biarkan mereka yang memimpin skenarionya. Tugas kita hanya memastikan lingkungan mereka aman.

Ide Aktivitas "Bermain Bebas 30 Menit" menggunakan barang bekas yang bisa dilakukan di rumah:

1. "Arsitek Kardus" (The Cardboard Architect)

  • Bahan: Kotak sepatu bekas, kotak susu, atau potongan kardus apa saja, ditambah selotip/lakban.
  • Cara Bermain: Berikan kardus-kardus tersebut kepada anak tanpa instruksi. Biarkan mereka memutuskan apakah itu akan menjadi gedung tinggi, jembatan untuk mobil-mobilannya, atau rumah untuk boneka.
  • Manfaat: Mengasah kemampuan spasial, pemecahan masalah (bagaimana agar kotak tidak jatuh?), dan kreativitas visual.

2. "Laboratorium Ramuan" (The Potion Lab)

  • Bahan: Wadah plastik bekas (cup yogurt, botol air), air, pewarna makanan (opsional), serta bahan alam dari halaman (daun kering, bunga gugur, atau kerikil).
  • Cara Bermain: Biarkan anak mencampur bahan-bahan tersebut ke dalam wadah. Mereka mungkin berpura-pura sedang membuat ramuan ajaib atau sup untuk raksasa.
  • Manfaat: Eksplorasi sensorik, pengenalan tekstur, dan imajinasi naratif.

3. "Bioskop Bayangan" (Shadow Theater)

  • Bahan: Senter (atau lampu HP), sprei putih bekas (atau dinding polos), dan potongan karton/kertas yang ditempel di sumpit/sedotan.
  • Cara Bermain: Matikan lampu dan nyalakan senter. Biarkan anak membuat bayangan dengan tangan atau boneka kertas yang mereka buat. Ajak mereka bercerita tentang bayangan tersebut.
  • Manfaat: Kemampuan bahasa, bercerita (storytelling), dan pemahaman tentang cahaya serta bayangan.

Bermain bukanlah selingan dari belajar; bagi anak-anak, bermain adalah cara mereka belajar. Dengan memberikan ruang bagi unstructured play, Mom/Dad sedang memberikan fondasi terbaik bagi anak untuk tumbuh menjadi individu yang kreatif, tangguh, dan bahagia.

Foto: Cottonbro Studio/Pexels.com

Referensi:

  • American Academy of Pediatrics (AAP). (2018). The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children. Pediatrics, 142(3).
  • Ginsburg, K. R. (2007). The Importance of Play in Promoting Healthy Child Development and Maintaining Strong Parent-Child Bonds. Pediatrics, 119(1), 182-191.
  • Gray, P. (2013). Free to Learn: Why Unleashing the Instinct to Play Will Make Our Children Happier, More Self-Reliant, and Better Students for Life. Basic Books.
  • Hirsh-Pasek, K., & Golinkoff, R. M. (2008). Einstein Never Used Flashcards: How Our Children Really Learn--and Why They Need to Play More and Memorize Less. Rodale Books.
  • Zosh, J. N., et al. (2018). Accessing the Inaccessible: Redefining Play as a Spectrum. Frontiers in Psychology, 9, 1124. 

 

 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?