Anak Juga Perlu Punya Waktu Sendiri
Dipublikasikan: Minggu, 15 Februari 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Di dunia yang serba cepat dan terhubung secara digital, kita sering kali merasa bahwa anak yang sehat adalah anak yang selalu bersosialisasi, aktif bermain bersama teman, atau mengikuti berbagai kegiatan kelompok. Namun, ada satu aspek tumbuh kembang yang sering terabaikan namun sangat krusial: Waktu Sendiri (Solitude).
Kenapa begitu?
Memberikan ruang bagi anak untuk menyendiri bukan berarti mereka kesepian atau anti-sosial. Sebaliknya, waktu sendiri adalah momen penting di mana otak anak melakukan "konsolidasi" informasi dan emosi.
Manfaat Waktu Sendiri bagi Tumbuh Kembang
- Membangun Kecerdasan Intrapersonal: Waktu sendiri melatih anak untuk mengenali perasaan, keinginan, dan pikiran mereka sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Ini adalah fondasi dari kepercayaan diri dan kemandirian.
- Menumbuhkan Kreativitas yang Mendalam: Tanpa instruksi dari orang dewasa atau gangguan dari teman sebaya, imajinasi anak sering kali bekerja lebih liar. Mereka belajar menciptakan hiburan sendiri, yang merupakan akar dari kemampuan pemecahan masalah.
- Regulasi Emosi dan "Recharge": Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami overstimulasi dari suara, interaksi sosial, dan tugas sekolah. Waktu sendiri memberikan kesempatan bagi sistem saraf mereka untuk kembali tenang (rileks).
- Mengurangi Ketergantungan pada Orang Lain: Anak yang terbiasa memiliki waktu sendiri cenderung lebih tangguh dan tidak mudah merasa cemas saat tidak menjadi pusat perhatian atau saat harus melakukan tugas secara mandiri.
Membedakan "Menyendiri yang Sehat" dan "Kesepian"
Sebagai orang tua, penting untuk membedakan antara kebutuhan akan waktu sendiri (solitude) dengan penarikan diri karena masalah sosial (social withdrawal).
- Solitude (Sehat): Anak memilih untuk menyendiri (misalnya membaca buku di pojok kamar atau bermain lego sendirian) namun tetap memiliki hubungan sosial yang baik saat bergabung kembali dengan keluarga atau teman.
- Kesepian/Penarikan Diri (Waspada): Anak merasa terasing, menunjukkan tanda-tanda depresi, atau menyendiri karena merasa ditolak oleh lingkungannya. Jika ini terjadi, konsultasi dengan psikolog anak di klinik tumbuh kembang, sangat disarankan.
Tips Menghargai Ruang Pribadi Anak
- Ciptakan "Pojok Tenang": Sediakan satu area di rumah dengan bantal, buku, atau alat gambar di mana anak tahu bahwa di area tersebut ia tidak akan diganggu.
- Hargai Pilihan Mereka: Jika anak menolak diajak bermain bersama anggota keluarga lain dan lebih memilih menggambar di kamarnya, jangan langsung dianggap sebagai perilaku negatif. Pastikan mereka tahu bahwa Mom/Dad menghargai kebutuhan mereka untuk "istirahat".
- Matikan Gadget: Waktu sendiri bukanlah waktu di depan layar (screen time). Waktu sendiri yang berkualitas adalah saat anak berinteraksi dengan dirinya sendiri atau benda fisik di sekitarnya.
Waktu sendiri adalah bentuk penghargaan terhadap identitas diri anak yang sedang tumbuh. Dengan membiarkan mereka memiliki ruang pribadi, kita sebenarnya sedang membantu mereka menjadi individu yang lebih stabil, kreatif, dan mengenal dirinya dengan baik.
Foto: Gustavo Fring/Pexels.com
Referensi:
- Buchholz, E. S. (1997). The Call of Solitude: Alonetime in a World of Attachment. Simon and Schuster.
- Copioli, D., et al. (2024). Solitude in Childhood and Adolescence: A Systematic Review of Its Benefits and Risks. Journal of Child and Family Studies.
- Coplan, R. J., & Bowker, J. C. (2014). The Handbook of Solitude: Psychological Perspectives on Social Isolation, Social Withdrawal, and Being Alone. Wiley-Blackwell.
- Guerin, J. S. (2023). Alone Time: Why It’s Important for Kids’ Development. Child Mind Institute.
Long, C. R., & Averill, J. R. (2003). Solitude: An unexplored constructive state of mind. Theory & Psychology, 13(1), 21-44.