Waspada Dampak Sering Memaksa Anak Makan akibat GTM!
Dipublikasikan: Minggu, 7 Juni 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Bagi orang dewasa, kulineran itu salah satu kegiatan yang paling menyenangkan. Tetapi, tidak begitu dengan anak. Makan bisa menjadi momen yang paling menyiksa, terbukti anak sering jadi tantrum gara-gara diminta makan. Hal ini lalu mencapai puncaknya ketika anak mulai melancarkan aksi Gerakan Tutup Mulut (GTM). Bayangkan jika hal ini terjadi tiga kali sehari dan berlangsung terus-menerus sampai tiba waktunya dia mulai sekolah.
Wajar kalau orang tua sering khawatir ketika anak makannya sangat sedikit, tidak mengonsumsi makanan sehat seperti buah dan sayuran, atau menolak makan sama sekali. Terutama, jika berat badan si kecil tidak kunjung naik, atau malah mengalami penurunan berat badan.
Perlu diketahui, masalah anak susah makan itu kompleks dan berkembang seiring berjalannya waktu. Umumnya ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mulai GTM, yaitu:
Faktor Medis. Kategori ini terjadi ketika ada masalah fisik yang berkaitan dengan makan, seperti sembelit, alergi makanan, dan masalah jantung atau pernapasan. Ada juga perbedaan anatomi pada area mulut, seperti ikatan lidah atau bibir, laringomalasia, atau kelainan langit-langit mulut. Kesulitan mengkoordinasikan pernapasan dan menelan juga membuat pemberian makan menjadi sulit dan menakutkan buat anak.
Faktor Perilaku/Lingkungan. Suasana atau rutinitas waktu makan yang kurang mendukung bisa mempengaruhi pola makan anak. Misalnya, anak-anak dibiasakan makan sambal nonton televisi, sehingga mereka menolak makan ketika tidak dilakukan sambil menonton. Bisa juga karena suatu ketika Mama menyingkirkan sayur dari piringnya ketika anak tantrum, sehingga ia akan menggunakan tantrum sebagai trik andalan untuk menghindari makanan tertentu.
Faktor Psikososial. Masalah mental dan lingkungan sosial biasanya berkaitan dengan bagaimana keluarga berinteraksi satu sama lain. Misalnya, aktivitas keluarga yang terlalu padat, komunikasi orang tua dan anak yang kurang kompak, hubungan suami dan istri yang kurang harmonis, bahkan stres yang dialami orang tua. Dampak dari semua masalah tersebut ternyata bisa menjalar ke urusan makan anak.
Faktor Keterampilan. Anak memiliki kelemahan dalam melakukan tugas makan tertentu, yang membuatnya sulit menyelesaikan makanannya. Misalnya, tonus otot yang rendah di pipi, bibir, atau lidah, yang membuat anak kesulitan mengunyah. Ada juga anak yang tidak memiliki koordinasi motorik untuk menyendok dan makan sendiri dengan peralatan makan.
Faktor Sensorik. Beberapa anak sangat sensitif terhadap aspek sensorik tertentu pada makanan, seperti suhu, bau, rasa, atau tekstur. Orang tua bisa melihat tanda-tandanya ketika anak mudah muntah, menolak menyikat gigi, mengeluh makanannya terlalu panas atau terlalu dingin, atau berlari-lari meninggalkan tempat makan ketika ada makanan yang berbau tajam.
Dampak Jika Memaksa Anak Makan
Mama-Papa mungkin sudah melakukan berbagai cara untuk membujuk anak makan. Dari cara halus seperti membujuk dan mengakali, hingga mengancam dan mencubit. Misalnya, menjanjikan permen atau es krim kalau anak mau makan, menjejalkan makanan ketika anak meleng, bahkan mengancam anak tidak boleh bermain kalau makannya tidak habis.
Saat anak melakukan Gerakan Tutup Mulut, semua orang di rumah pasti ingin membantu. Namun, terkadang kita jadi menerima terlalu banyak masukan dari teman atau keluarga. Saran-saran seperti, "Nanti kalau lapar juga makan sendiri", atau "Pegang tangannya biar nggak bisa nepis sendok”, atau "Suapin pas dia lagi ketawa", pasti sudah sering kita dengar.
Sayangnya, saran-saran seperti ini justru tidak efektif. Setelah mencobanya, orang tua pasti tahu kalau cara ini malah bikin anak makin trauma, makin rewel, atau bahkan menolak makanan sama sekali. Interaksi seperti ini terjadi ketika orang tua sudah mulai kewalahan dan stres menghadapi anak susah makan.
Namun yang perlu orang tua ketahui, memaksa anak makan justru bisa memicu masalah perilaku yang serius dan pasti tidak kita inginkan:
• Anak Malah Jadi Benci Makanan Tersebut. Anak-anak mampu menghubungkan makanan dengan trauma atau kejadian tidak menyenangkan. Saat dipaksa makan dalam kondisi kenyang, rasa tidak nyaman di perut dan emosi negatif saat diomeli akan membekas di ingatan mereka. Akibatnya, mereka justru jadi makin tidak suka dengan makanan itu.
• Makin Mogok Makan. Jika pengalaman pertama anak mencoba makanan baru (seperti sayuran) langsung disambut dengan paksaan atau dijejalkan ke dalam mulut, anak akan mogok total di kemudian hari karena mereka menganggap makanan itu sebagai ancaman.
• Risiko Obesitas (Kegemukan). Anak kecil sebenarnya punya sinyal alami dalam tubuhnya untuk tahu kapan mereka lapar dan kenyang. Jika kita terus memaksa mereka menghabiskan isi piring, sinyal rasa kenyang ini lama-lama akan rusak. Anak jadi tidak bisa mendengarkan tubuhnya sendiri dan terbiasa terus makan sampai piringnya kosong. Akibatnya, mereka rentan mengalami kebiasaan makan berlebih dan obesitas di masa depan.
Kalau Mama-Papa sudah terlanjur pernah memaksa anak makan, jangan merasa bersalah atau berkecil hati, ya. Lebih baik, periksakan anak ke dokter untuk mengetahui apakah ada masalah medis, keterampilan, atau sensorik yang menyebabkan anak susah makan. Jika memang ada, Mama-Papa bisa dibantu terapis berpengalaman yang akan merancang program dengan rekomendasi khusus yang memudahkan anak makan.
Yuk, mulai kurangi drama Gerakan Tutup Mulut di meja makan. Kenali masalah pada anak agar hubungan mereka dengan makanan tetap sehat dan menyenangkan!
Referensi:
1. NLM
2. Feeding.com
3. Childfeedingguide.co.uk
4. Kennedykrieger.org