Mengenal Selective Mutism, ketika Anak Membisu Begitu Keluar dari Rumah

Dipublikasikan: Minggu, 5 Juli 2026

Waktu membaca: 4 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Si Kecil sangat ceria dan cerewet di rumah, tetapi begitu sampai di sekolah kok mendadak jadi membisu dan tidak mau mengeluarkan satu patah kata pun? Kondisi ini menyebabkan perilaku anak sering kali disalahartikan oleh lingkungan sekitar.

Mereka mengira anak tergolong pemalu, keras kepala, atau sengaja mogok bicara. Padahal, bisa jadi si kecil sedang mengalami gangguan kecemasan yang disebut Selective Mutism.

Selective Mutism (SM) ini suatu gangguan kecemasan di mana anak tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu, misalnya saat di sekolah atau saat bertemu orang yang jarang dijumpai. Kondisi ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak, khususnya di usia dini. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa terus terbawa sampai mereka dewasa.

Perlu Mama-Papa ketahui, anak dengan Selective Mutism bukan sedang menolak berbicara. Mereka benar-benar mengalami kondisi tidak mampu berbicara karena rasa cemas.

Di lingkungan yang membuat mereka nyaman, seperti di rumah bersama keluarga, anak-anak ini bisa berbicara dengan sangat lancar tanpa beban. Tetapi ketika dituntut untuk berbicara di luar rumah, anak jadi merasa panik dan cemas yang luar biasa.

Hal ini membuat tubuh mereka merespons dengan cara membeku (freeze response), sehingga berbicara menjadi hal yang mustahil dilakukan.

Tingkat Keparahan Berbeda

Berbeda dengan mutisme total di mana penderita sama sekali tidak pernah berbicara di mana pun, anak dengan SM hanya terdiam di situasi tertentu saja. Mereka juga memiliki cara tersendiri dalam merespons lingkungan luar.

Anak yang lebih percaya diri biasanya masih bisa memanfaatkan bahasa tubuh atau gestur untuk berkomunikasi, seperti mengangguk untuk bilang "ya" atau menggelengkan kepala untuk bilang "tidak".

Sedangkan anak-anak yang mengalami kecemasan tingkat berat cenderung menghindari semua bentuk komunikasi, baik itu bicara langsung, tulisan, maupun bahasa isyarat.

Sebagian anak mungkin masih bisa menjawab, tetapi hanya mengeluarkan beberapa kata saja atau berbicara dengan suara yang diubah seperti berbisik.

Penyebab Selective Mutism

Para ahli memandang mutisme selektif sebagai bentuk rasa takut atau fobia untuk berbicara kepada orang-orang tertentu yang berasosiasi dengan kecemasan. Beberapa faktor yang memicu gangguan kecemasan ini antara lain:

Kecemasan Alami. Anak memiliki kecenderungan bawaan untuk mudah cemas dan sulit menghadapi kejadian sehari-hari.
Kecemasan Berpisah (Separation Anxiety). Banyak anak merasa sangat stres ketika harus berpisah dari orangtuanya. Rasa cemas ini kemudian berpindah kepada orang dewasa baru yang mencoba menenangkan mereka.
Gangguan Bicara dan Pendengaran. Jika anak memiliki masalah dalam berbicara, bahasa, atau pendengaran, hal itu membuat aktivitas berbicara menjadi jauh lebih menegangkan buat mereka.
Gangguan Integrasi Sensori. Beberapa anak kesulitan memproses informasi sensori seperti suara bising atau keramaian, sehingga mereka memilih membisu dan mogok bicara saat kewalahan.

Kalau anak mendadak tidak mampu bicara di tempat yang dulunya aman, itu biasanya merupakan tanda stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD), bukan Selective Mutism.

Selain itu, memiliki kondisi ini bukan berarti anak mengidap autisme, karena keduanya adalah kondisi yang berbeda. Meski begitu, anak penyandang autisme juga bisa mengalami Selective Mutism secara bersamaan.

Tanda-tanda Selective Mutism

Mutisme selektif memengaruhi sekitar 1 dari 140 anak kecil. Masalah ini juga ditemukan lebih banyak pada anak perempuan, karena secara psikologis anak perempuan lebih rentan terhadap gangguan kecemasan internal. Selain itu, kondisi ini juga lebih sering dialami anak-anak yang baru pindah dari negara kelahiran mereka.

Gejala Selective Mutism biasanya mulai terlihat jelas ketika anak berusia 2 hingga 4 tahun. Tanda utamanya adalah perbedaan drastis pada kemampuan berinteraksi dengan orang yang berbeda. Anak akan mendadak diam dan wajah berubah kaku ketika harus bicara di luar zona nyaman mereka.

Sebelum pergi ke sekolah, anak mungkin menunjukkan gejala fisik seperti sakit kepala, sakit perut, atau muntah atau diare. Ketika berada di situasi yang membuat mereka tidak nyaman, anak dengan Selective Mutism juga akan menunjukkan tanda-tanda berikut:

• Menghindari kontak mata dengan lawan bicara.
• Gugup, gelisah, atau canggung secara sosial.
• Terlihat tidak sopan, tidak tertarik, atau cemberut.
• Manja dan menempel terus pada orang tua (clingy).
• Terkesan sangat pemalu dan menarik diri.
• Tubuh terlihat kaku, tegang, atau koordinasi geraknya buruk.
• Keras kepala atau agresif, bahkan mengalami tantrum saat pulang ke rumah atau marah ketika ditanyai oleh orang tua.

Bagaimana Cara Membantu Mereka?

Ketika anak mengalami mutisme selektif, pertama-tama, jangan memaksa mereka untuk berbicara. Desakan untuk berbicara justru menjadi hal yang paling membuat mereka tidak mampu bersuara.

Lebih baik, fokuslah untuk menurunkan tingkat kecemasan mereka. Berikan pujian dan penguatan positif atas setiap usaha kecil yang mereka lakukan untuk berkomunikasi.

Salah satu trik sederhana yang sangat membantu adalah memberikan waktu ekstra sekitar 5 detik bagi anak untuk merespons sebuah pertanyaan. Jeda waktu ini memberi mereka kesempatan untuk menenangkan kepanikan dan menemukan kembali suara mereka.

Namun untuk memastikan gangguan kecemasan pada anak, akan lebih baik jika Mama-Papa berkonsultasi ke dokter. Hasil evaluasi nantinya akan menentukan apakah anak perlu terapi wicara atau terapi lainnya.

Mam-Pap, mengatasi Selective Mutism memang butuh kesabaran ekstra. Dengan dukungan yang tepat dan lingkungan yang penuh kasih, pelan-pelan Si Kecil akan bisa mengatasi rasa takutnya dengan baik.

Referensi:
1. NHS 
2. Childmind.org 
3. Kidshealth.org 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?