'Parenting VOC' Tidak Selamanya Buruk, Pahami Kapan Anak Butuh Kedisiplinan Tegas
Dipublikasikan: Selasa, 21 Juli 2026
Waktu membaca: 4 menit
MyKidz - Banyak dari kita tumbuh besar dengan pola asuh yang kaku: tidak boleh membantah, harus patuh tanpa banyak bertanya, dan hukuman menjadi cara untuk mendisiplinkan anak. Warganet menyebut pola asuh ini sebagai "parenting VOC", gaya mendidik anak yang hierarkis, top-down, dan tidak memberi ruang bagi anak untuk bersuara.
Tetapi apakah semua bentuk ketegasan dalam pengasuhan memang buruk? Dan kalau tidak, kapan sebenarnya strict parenting justru dibutuhkan?
Apa Itu Strict Parenting?
Parenting VOC dalam istilah psikologi disebut strict parenting, yang merujuk pada gaya otoriter. Ini salah satu dari empat gaya pengasuhan yang pertama kali dirumuskan psikolog Diana Baumrind (1966). Ciri utamanya: kontrol yang tinggi, komunikasi hanya berjalan satu arah, dan tidak ada kehangatan dalam hubungan tersebut.
Dalam pola asuh ini anak diharapkan mengikuti aturan tanpa berdebat, sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, mengajukan pertanyaan, atau menyampaikan kenginan mereka sendiri.
Strict parenting berbeda dari authoritative parenting (pola asuh demokratis) yang juga tegas, tapi tetap hangat, terbuka, dan menjelaskan alasan di balik setiap aturan. Penelitian selama beberapa dekade sepakat bahwa pengasuhan otoritatif lebih berdampak positif bagi anak.
Tanda-tanda Orang Tua Terlalu Strict
Tidak semua orang tua menyadari bahwa pola asuhnya sudah masuk kategori terlalu ketat. Ingin tahu apa tanda-tandanya?
• Anak tidak boleh bertanya "kenapa". Saat anak mempertanyakan suatu aturan, orang tua langsung menganggapnya membangkang. Padahal, bertanya adalah cara anak belajar memahami dunia.
• Nilai bagus tidak pernah cukup. Anak pulang dengan nilai ulangan 85, tapi yang keluar dari mulut orang tua bukan apresiasi, melainkan, "Kok, nggak 100?" Riset menunjukkan bahwa orang tua yang lebih sering menegur dibanding mendukung justru membuat anak lebih sulit belajar dan memecahkan masalah.
• Semua keputusan di tangan orang tua, dari pilihan baju, teman bermain, hingga hobi. Kontrol berlebihan atas pilihan-pilihan kecil ini pelan-pelan bisa merusak kepercayaan diri anak lho, Mam-Pap.
• Emosi anak dianggap drama. "Udah, jangan nangis. Malu dilihat orang." Membatasi ekspresi emosi anak berdampak langsung pada kemampuan mereka meregulasi diri di kemudian hari.
• Anak patuh karena takut, bukan karena paham. Ini mungkin tanda yang paling penting. Ada perbedaan besar antara anak yang patuh karena takut dihukum, dan anak yang patuh karena ia memahami dan menghargai aturan yang ada.
Kapan Strict Parenting Diperlukan?
Perlu Mama-Papa ketahui, ketegasan sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Justru penelitian menunjukkan bahwa struktur dan aturan yang jelas adalah kebutuhan dasar anak, terutama di usia dini hingga SD.
Untuk keselamatan fisik, ketegasan tidak bisa ditoleransi di usia berapa pun. Aturan seperti tidak boleh berlari ke jalan atau harus memakai helm tidak perlu dinegosiasikan. Aturan yang konsisten membantu anak merasa aman karena mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka.
Untuk membangun rutinitas dan regulasi diri (usia 2–6 tahun), orang tua perlu menyediakan struktur yang konsisten dari jadwal tidur, makan, hingga bermain. Hasil yang diharapkan, anak jadi mampu mengembangkan kemampuan regulasi diri lebih baik. Kemampuan inilah yang nantinya membuat anak berhasil secara akademik maupun sosial di sekolahnya.
Saat anak akan memasuki sekolah dasar, orang tua diharapkan mampu menetapkan batasan yang tegas dan punya ekspektasi realistis, sekaligus tetap bersikap hangat dan hadir secara emosional.
Ketika Ketegasan Menjadi Bumerang
Pernah mengalami ketika orang tua melarang anak melakukan sesuatu, eh... anak malah seperti termotivasi untuk melakukan hal yang dilarang itu? Ini ternyata bukan hanya perasaan Mama-Papa, karena merupakan bukti dari teori Psychological Reactance yang dirumuskan psikolog Jack Williams Brehm pada tahun 1966.
Anak yang dilarang keras tanpa penjelasan justru semakin penasaran, semakin ingin mencoba, dan semakin tertutup kepada orang tuanya. Bukankah ini kebalikan dari yang diharapkan orang tua?
Penerapan strict parenting juga menimbulkan risiko jangka panjang, seperti depresi, kecemasan, hingga masalah kesehatan di masa dewasa. Selain itu, anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter cenderung memiliki harga diri yang lebih rendah dan rasa kesepian yang lebih tinggi.
Yang perlu ditekankan sekarang ini bukan memilih antara strict atau gentle, melainkan tegas tapi tetap hangat. Aturan yang jelas, konsisten, dan disertai penjelasan jauh lebih efektif daripada larangan yang diberikan tanpa alasan.
Kalau Mama-Papa bilang "tidak", tunjukkan juga apa yang seharusnya dilakukan anak. Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan mendidik anak yang patuh karena takut, melainkan anak yang patuh karena paham dan percaya.
Menjelang Hari Anak Nasional 2026 pada 23 Juli yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, yuk pelan-pelan kita belajar membangun hubungan yang penuh kasih sayang dan hormat dengan anak. Pola asuh positif berlandaskan gagasan bahwa anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa dicintai, aman, dan dipahami, apapun gaya pengasuhan Mama-Papa!