Si Kecil Mau Jadi The Next Mbappe? Ini Manfaat Sepak Bola untuk Fisik dan Mental Anak

Dipublikasikan: Senin, 13 Juli 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Piala Dunia 2026 masih berlangsung hingga Minggu, 19 Juli 2026 nanti. Ternyata, bukan hanya orang tua yang mengikuti perkembangan beritanya. Anak-anak pun ikut menonton dan mengidolakan pemain-pemain dunia. Nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Kylian Mbappe, sudah begitu akrab buat mereka.

Anak-anak pun jadi ingin menjadi pemain sepak bola seperti idolanya. Ekskul mini soccer atau futsal, juga klab-klab sepak bola anak bermunculan di mana-mana. Hal ini tentu menggembirakan, karena anak jadi terdorong untuk aktif bergerak dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

Menanggapi Si Kecil yang merengek ingin ikut klab sepak bola memang menyenangkan. Apa lagi, olahraga ini memberikan banyak manfaat untuk anak. Namun, si usia berapa sebaiknya anak boleh mulai berlatih? Amankah olahraga ini untuk anak? 

Agar semakin yakin saat mengikutkan anak di kegiatan sepak bola, ada baiknya orang tua paham dulu manfaat sepak bola untuk anak maupun rambu-rambu agar mereka bisa berlatih dengan aman.

Manfaat Sepak Bola untuk Anak

Main sepak bola itu membutuhkan banyak gerakan. Mulai lari cepat jarak pendek sampai lari jauh menyusuri lapangan. Di setiap pertandingan, seorang pemain bisa berdiri dan terus bergerak selama 20 hingga 45 menit tanpa henti, tergantung dari usia mereka. Apa manfaat dari semua itu?

• Secara fisik, sepak bola menuntut banyak pergerakan seperti berlari, melompat, dan berputar, yang sangat efektif melatih ketahanan jantung, kekuatan otot, koordinasi, serta kesehatan tulang.
• Memicu pelepasan hormon bahagia seperti dopamin dan endorfin. Hal ini membantu anak melepas stres, membangun rasa percaya diri, dan menumbuhkan ketangguhan saat menghadapi kemenangan maupun kekalahan. 
• Mengajarkan kerja sama tim, komunikasi, dan kepemimpinan karena setiap pemain memiliki peran penting di lapangan. 
• Menjadi sarana untuk berteman dan membangun komunitas yang inklusif bagi semua anak dari berbagai latar belakang.

Kapan Usia yang Tepat untuk Mulai?

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak umumnya belum siap untuk olahraga yang bersifat terorganisasi dan kompetitif sebelum berusia 6 tahun. Sebelum usia ini, fokusnya sebaiknya pada recreational soccer atau sepak bola untuk permainan saja (bukan untuk kompetisi). Jadi suasana bermain diutamakan, bukan latihan terstruktur.

Setelah usia 6 tahun, anak umumnya sudah punya keterampilan fisik, rentang perhatian, dan pemahaman aturan main yang cukup untuk mengikuti olahraga terorganisasi. 

Di usia 8-10 tahun, anak mulai siap mencoba olahraga dengan kontak ringan. Sedangkan kontak yang lebih penuh seperti tackling (merebut atau menghentikan pergerakan bola dari pemain lawan) baru dianjurkan di usia 10-12 tahun.

Berapa lama latihannya? Anak 8 tahun idealnya bermain atau berlatih maksimal sekitar 8 jam per minggu. Beri mereka istirahat satu sampai dua hari per minggu. Ambil jeda minimal tiga bulan dalam setahun (boleh dipecah per bulan) dari latihan rutinnya.

Meski begitu, ini bukan patokan kaku ya Mam-Pap. Minat, kenyamanan, dan kesiapan anak tetap jadi pegangan utamanya.

Lalu apa lagi yang perlu Mama-Papa perhatikan saat anak memutuskan ikut klab sepak bola?

Rambu-rambu Bermain Sepak Bola

Dos:
• Prioritaskan bermain daripada berkompetisi, terutama di usia TK dan SD.
• Pastikan anak berlatih dengan durasi sesuai usianya per minggu.
• Perhatikan kalau ada tanda kelelahan berlebih atau nyeri yang tidak biasa.
• Libatkan anak dalam olahraga atau aktivitas fisik lain di luar sepak bola.

Don'ts:
• Jangan memaksakan intensitas latihan setara atlet remaja atau orang dewasa.
• Jangan biarkan anak bermain tanpa pemanasan terstruktur.
• Jangan menekankan hasil pertandingan secara berlebihan di usia dini.
• Jangan izinkan anak usia 10 tahun ke bawah melakukan gerakan menyundul bola (heading), baik saat latihan maupun pertandingan. Menurut U.S. Soccer Concussion Initiative, anak usia 11-13 tahun boleh menyundul saat pertandingan. Namun, tetap batasi saat latihan.

Tips Menghindari Cedera

Meskipun dilakukan secara hati-hati, olahraga sepak bola tetap berpotensi menimbulkan cedera. Sebagian besar adalah cedera overuse (akibat penggunaan berlebihan) pada area tungkai, nyeri lutut atau keseleo pada pergelangan kaki. 

Oleh karena itu, sangat penting mempersiapkan tubuh anak sebelum bermain untuk menghindari cedera. Berikut beberapa hal yang bisa Mama-Papa lakukan:

• Pastikan anak selalu melakukan pemanasan sebelum bermain, seperti lari-lari kecil (kardio) dan peregangan. Sebab, otot dan sendi yang kaku lebih gampang cedera. 
• Pastikan anak memakai knee pad atau shin guard (pelindung lutut dan tulang kering) yang pas ukurannya, dan sepatu yang sesuai (tidak kekecilan atau kebesaran).
• Jaga asupan makanan dan minuman untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Kurang minum sedikit saja bisa menurunkan performa bermain dan menaikkan risiko cedera.
• Minta anak memberitahu jika merasa kelelahan, nyeri, atau rasa tidak nyaman pada tubuh. Jika mulai merasakan gejala cedera saat latihan, segera minta ia berbicara kepada pelatihnya. 

Jadi, tidak perlu khawatir jika anak ingin masuk klab sepak bola karena ikut demam Piala Dunia 2026. Kalau Mama-Papa ingin memastikan Si Kecil siap secara fisik untuk mulai berolahraga secara terstruktur, konsultasikan dengan pelatih dan dokter anak untuk membantu memastikan tumbuh kembangnya sesuai tahapan.

Referensi:

1. American Academy of Pediatrics (AAP)
2. Childrens.com
3. HealthyChildren.org
4. KidsHealth

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?