Trauma Masa Kecil akan Menjadi Luka yang Tak Terlihat, Ini Tanda-tandanya pada Anak Usia SD
Dipublikasikan: Selasa, 28 Juli 2026
Waktu membaca: 4 menit
MyKidz - Beberapa hari lalu, beredar sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Seorang gadis kecil terlihat menangis di tengah keramaian, berkali-kali memanggil nama ayahnya yang tidak bisa lagi menyahut. Sang ayah tewas dikeroyok massa pada Jumat (24/7/2026), usai diduga mencuri ayam aduan di Tabanan, Bali.
Dalam waktu yang tidak akan lama, hidup anak perempuan usia SD itu berubah selamanya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak itu saat ia memasuki masa remaja hingga dewasa. Namun para peneliti sudah lama mempelajari apa yang biasanya terjadi pada anak-anak yang mengalami trauma akibat peristiwa seperti ini.
Trauma masa kecil itu sendiri bukan sekadar pengalaman buruk. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), trauma masa kecil adalah peristiwa-peristiwa yang mengancam rasa aman dan ikatan seorang anak dengan dunianya.
Ada beberapa pengalaman yang bisa mengancam rasa aman tersebut. Contohnya, mengalami atau menyaksikan kekerasan fisik dan verbal, atau kehilangan orang tua atau orang yang dicintai secara mendadak. Atau, ketika anak tumbuh dalam keluarga yang tidak stabil akibat perceraian atau penyalahgunaan zat.
Sebuah studi nasional di Australia menemukan bahwa kematian mendadak orang yang dicintai adalah pengalaman traumatis paling umum sebelum usia 18 tahun (27,5 persen). Pengalaman traumatis juga terjadi ketika anak menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga (21,1%) dan menyaksikan cedera serius atau kematian (20,0%).
Orang tua perlu memahami, trauma bukan hanya tentang peristiwa buruknya, tapi seberat apa masalah itu sampai anak tak sanggup mengatasinya. Dua anak yang mengalami kejadian yang sama bisa bereaksi sangat berbeda, tergantung usia dan kehadiran orang dewasa yang mendampinginya.
Usia SD Menjadi Momen Kritis
Trauma dini bisa dialami anak dari usia 0-3 tahun, meskipun mereka belum bisa menceritakan bahaya yang dirasakan. Kesadaran diri (self-awareness) umumnya mulai muncul sekitar usia 18 bulan, ketika mereka sudah mulai bisa berjalan dan berbicara.
Di usia 6–12 tahun, pemahaman kognitif anak sudah cukup matang. Mereka bukan hanya paham saat ada peristiwa buruk yang terjadi, tapi juga bisa mengingat kejadian dan merasakan kehilangan secara nyata. Tetapi karena belum bisa menjelaskan perasaannya, trauma mereka yang belum selesai akan keluar lewat perubahan sikap dan perilaku.
Tanda-tanda ini sering baru terlihat setelah anak punya waktu untuk memproses pengalamannya. Momen tersebut biasanya dipicu oleh hal-hal yang kelihatannya sepele, tetapi mengingatkannya pada momen traumatis itu.
Tanda-tanda Trauma pada Anak Usia SD
Karena anak usia SD belum bisa mengartikan lukanya dengan kata-kata, traumanya terungkap melalui cara lain. Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai orang tua dan guru:
1. Perubahan perilaku yang tiba-tiba
Anak yang sebelumnya ceria mendadak menjadi pendiam, mudah marah, atau agresif tanpa alasan yang jelas. Ini bukan karena mereka nakal ya, Mam-Pap, melainkan cara tubuh merespons beban emosi yang terlalu berat. Anak yang mengalami trauma berat biasanya terus terbayang kejadian buruk itu sehingga emosinya terasa kebas atau mati rasa.
2. Kemunduran perilaku (regression)
Anak tiba-tiba mengompol lagi, takut tidur sendiri, atau menempel terus pada orang tua seperti anak yang lebih kecil. Ini merupakan respons normal otak anak yang sedang mencari rasa aman.
3. Sulit berkonsentrasi dan prestasi akademik menurun
Trauma mengganggu kerja otak anak dalam berpikir dan mengingat. Jadi anak bukan malas, melainkan otaknya sedang berusaha bertahan hidup.
4. Keluhan fisik tanpa penyebab medis
Anak sering mengeluh sakit fisik seperti mual, sakit perut, atau sakit kepala tanpa sebab medis yang jelas. Bisa jadi itu cara tubuhnya merespons trauma yang tersimpan, atau yang dikenal sebagai gejala somatis.
5. Menarik diri dari teman dan aktivitas favorit
Anak yang dulunya suka bermain tiba-tiba memilih menyendiri. Ia jadi kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disenangi. Sikap menarik diri dari lingkungan seperti ini merupakan dampak trauma masa kecil yang sangat sering terjadi.
6. Mimpi buruk dan gangguan tidur
Anak yang mengalami trauma tetap memproses ingatannya termasuk ketika sedang tidur. Mama-Papa perlu waspada kalau anak tiba-tiba tidak mau tidur sendiri atau sering bermimpi buruk, karena itu tandanya ia butuh didampingi.
Apakah Anak Bisa Pulih dari Trauma?
Bisa, namun dengan catatan yang penting. Tidak semua anak yang mengalami peristiwa traumatis akan membawa dampaknya seumur hidup. Faktor penentunya yang utama bukan seberat apa peristiwanya, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Anak bisa pulih dengan bantuan tenaga profesional serta lingkungan aman dengan didampingi oleh orang dewasa yang mampu memberikan rasa sayang. Jangan biarkan anak menanggung traumanya sendirian. Semakin cepat orang-orang di sekitarnya mengenali tanda-tandanya, semakin besar peluang ia pulih sehingga tumbuh menjadi dirinya yang utuh.
Referensi:
Referensi
• CDC.
• NCBI/PMC.
• University of Wolverhampton.
• World Journal of Advanced Research and Reviews.