Anak Jadi 'Princess' di Rumah: Risiko Jika Anak Terlalu Dimanjakan untuk Masa Depannya

Dipublikasikan: Senin, 24 Agustus 2026

Waktu membaca: 4 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Tidak ada orang tua yang tidak ingin memberikan kasih sayangnya pada anak. Perhatian dicurahkan dalam memberikan apapun yang diinginkan, baik dalam bentuk barang atau keinginan untuk melakukan berbagai hal.

Namun, terkadang orang tua tidak bisa memberi batasan apa yang boleh dan tidak boleh. Orang tua khawatir sekali kalau anak kecapekan atau mengalami kesulitan, sehingga akan turun tangan untuk mencegah hal itu terjadi. Anak tidak pernah mendengar kata "tidak", bahkan setiap keinginannya dipenuhi sebelum sempat meminta. Anak diperlakukan seperti princess di rumah.

Sekilas, hal itu tampak baik-baik saja. Anak terlihat bahagia, orang tua pun merasa sudah memberikan apa yang dibutuhkan anak. Tetapi dampak dari terpenuhinya segala keinginan tanpa batas ini baru dirasakan ketika anak bertambah besar. Pada saat itu, mungkin orang tua baru sadar bahwa selama ini mereka terlalu memanjakan anak.

Adakah Sisi Positif Memanjakan Anak?

Orang tua akan merasa bahagia kalau bisa memberikan apapun yang dibutuhkan anak. Mereka percaya bahwa memberikan pada anak apa yang tidak mereka miliki di masa kecil adalah suatu kemajuan.

Riset dari overindulgence.org menemukan pola tersebut. Anak yang terlalu dimanjakan seringkali berasal dari orang tua yang punya pengalaman pahit di masa lalu, entah itu kemiskinan atau pekerjaan yang menyita waktu. Rasa bersalah karena kurang hadir lalu dikompensasi dengan materi. Niatnya menunjukkan kasih sayang, tapi dampaknya bisa jauh berbeda.

Memanjakan anak sebenarnya tidak salah. Kasih sayang, perhatian, dan kehadiran orang tua justru penting untuk membangun rasa percaya diri anak. Yang berbahaya bukan kasih sayangnya, melainkan ketika kita menuruti semua kemauannya tanpa batas.

Overindulgent parenting cenderung memberikan segalanya secara berlebihan dan serbacepat pada anak. Padahal tanpa disadari, hal itu lebih banyak dilakukan untuk memuaskan keinginan orang tua sendiri, bukan demi kebaikan anak.

Ketika Anak Jadi Princess

Mam-Pap, dampak buruk terlalu memanjakan anak itu bukan hanya perasaan kita saja. Penelitian ilmiah mengungkapkan cukup banyak fakta mengenai anak yang terlalu dimanjakan:

1. Tumbuh menjadi pribadi yang merasa selalu berhak (entitled)

Anak yang tak pernah dilarang atau merasakan kecewa cenderung merasa dirinya paling istimewa dan harus selalu diutamakan. Dari luar ia mungkin terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya ia belum siap menjalin hubungan yang saling menghargai.

2. Rendahnya kemampuan regulasi diri

Karena tidak dibiasakan dengan aturan, anak akan kesulitan belajar menahan diri. Dampaknya, begitu harus mengambil keputusan sendiri, mereka kerap memilih jalan ekstrem: terlalu patuh atau malah memberontak.

3. Munculnya masalah kesehatan mental di kemudian hari

Indulgent parenting (pola asuh yang terlalu menuruti semua kemauan anak) ternyata berakibat buruk bagi kesehatan mentalnya. Sejak kecil hingga dewasa, mereka lebih rentan mengalami kecemasan, stres berat, hingga sulit bersosialisasi.

Anak yang orang tuanya terlalu sering turun tangan (ciri khas overindulgence) cenderung mengalami depresi dan merasa kurang kompeten, serta kurang puas dengan hidupnya.

4. Dampaknya berlanjut hingga dewasa

Orang tua yang terlalu mengontrol atau memanjakan membuat anak rentan mengalami masalah emosi dan perilaku. Dampaknya makin buruk jika komunikasi di rumah kaku, sehingga anak tidak siap dan canggung saat menghadapi masalah hidup sehari-hari.

Pola ini lalu berulang ke generasi berikutnya. Anak yang terlalu dimanjakan saat kecil berisiko tumbuh menjadi helicopter parent bagi anak-anaknya kelak. Akibatnya, anak-anak mereka cenderung penurut secara berlebihan, mudah cemas, dan sangat bergantung pada orang lain.

5. Tidak mengenal rasa syukur dan tanggung jawab

Orang tua yang selalu pasang badan untuk anak membuat mereka tidak belajar tanggung jawab. Begitu dewasa, mereka jadi enggan peduli dengan lingkungan sekitar, dan hanya bergerak kalau ada keuntungan pribadi.

Tanpa batasan yang jelas, anak yang terlalu dimanjakan bisa mengidap Pampered Child Syndrome. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang egois, impulsif, dan serakah. Ironisnya, rasa tidak pernah puas ini justru membuat mereka tidak bahagia.

Bagaimana Batasannya?

Mam-Pap, mencintai anak itu tidak berarti memenuhi semua keinginannya. Justru sebaliknya, salah satu bentuk cinta terbesar adalah membiarkan anak mengalami frustrasi, belajar menunggu, dan menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Yang penting, ada keseimbangan antara kehangatan yang tulus dan struktur yang konsisten. Orang tua yang hangat sekaligus tegas dalam aturan bukanlah yang memenuhi semua permintaan demi menghindari konflik. Dengan cara ini, anak belajar menjadi tangguh, empatik, dan benar-benar bahagia.

Seperti kata psikolog David Bredehoft, dampak memanjakan anak itu tidak selalu sesuai dengan niatnya. Kita bisa mencintai anak sepenuh hati, sambil tetap mengajarkan bahwa bukan hanya mereka yang perlu diperhatikan.

Referensi:
1. MyKingdom 
2. ResearchGate 
3. MDPI 
4. Iowa State University 
5. Overindulgence.org

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?