Habis Emosi Lalu Nyesel, Ini Dampak Membentak Anak yang Sering Tak Disadari Orang Tua
Dipublikasikan: Senin, 31 Agustus 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Suara Mama meninggi. Setelah itu kalimat demi kalimat keluar begitu cepat, dan, mungkin terlalu keras. Semua karena Mama sudah kehilangan kesabaran karena anak seperti tidak pernah mendengarkan. Setelah dibentak, anak menunduk sambil melengos atau menutupi telinganya. Apakah dia sedang menyesali perbuatannya? Belum tentu.
Tahukah Mam-Pap, hampir 90 persen orang tua mengaku pernah membentak anak dalam setahun terakhir. Untuk keluarga dengan anak usia di atas tujuh tahun, angkanya mendekati 100%. Sebenarnya kehilangan kesabaran dan membentak itu sangat manusiawi, tapi seberapa besar dampaknya bagi si kecil?
Sebelum membahas dampaknya, orang tua perlu memahami perbedaan antara berbicara tegas dan membentak.
Peneliti dari Neurolaunch (2024) membedakannya dengan jelas: membentak yang merusak mental itu bukan hanya soal volume suara, tapi soal isi dan arahnya. Ada perbedaan antara kalimat "Kamu tidak membereskan kamar, itu bikin Mama frustrasi" dan "Kamu malas sekali, tidak pernah mau dengar!".
Keduanya sama-sama diucapkan dengan suara keras, tapi hanya kalimat kedua yang menyerang karakter anak. Dan, perbedaan itu sangat menentukan dampaknya.
Apa yang Terjadi pada Otak Anak Saat Dibentak?
Hasil pemindaian MRI pada orang dengan riwayat kekerasan verbal dari orang tua menunjukkan perbedaan nyata pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa. Otak anak yang sering terpapar bentakan secara harfiah berkembang secara berbeda, dan sayangnya bukan ke arah yang baik.
Riset pada anak usia 3 sampai 7 tahun menemukan bahwa orang tua yang sering membentak atau bersuara keras justru membuat anak tumbuh menjadi hiperaktif, emosional, dan susah diatur.
Itu sebabnya para peneliti menyerukan agar kekerasan verbal pada anak diakui resmi sebagai salah satu bentuk child maltreatment. Dampaknya tidak main-main Mam-Pap, karena bisa sama seriusnya dengan pelecehan fisik atau seksual.
Efek jangka panjangnya bukan hanya depresi atau anak jadi sering marah, tapi juga masalah fisik seperti obesitas dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Dan, jangan salah, dampak ini bahkan muncul ketika hubungan orang tua-anak secara keseluruhan hangat.
Anak yang tumbuh di keluarga yang sering membentak, kemungkinannya untuk mengulangi pola ini saat menjadi orang tua juga lebih besar!
Kapan Bersuara Keras Memang Dibutuhkan?
Perlu Mama-Papa ketahui, tidak semua situasi dengan anak bisa diselesaikan dengan suara yang lembut. Ada momen di mana suara yang keras dari orang tua memang diperlukan.
Berteriak diperbolehkan untuk menarik perhatian anak dalam situasi berbahaya, misalnya saat anak hampir berlari ke jalan atau menyentuh benda panas. Justru karena itu, orang tua sebaiknya tidak membiasakan berteriak dalam situasi sehari-hari, agar suara keras tetap efektif ketika benar-benar dibutuhkan.
Ada tiga tipe berteriak yang perlu dibedakan:
1. Stern talking, yaitu berbicara tegas dengan nada tinggi yang cenderung diabaikan anak karena tidak menimbulkan rasa takut.
2. Teriakan karena amarah yang kalau sudah kronis bisa merusak secara emosional.
3. Teriakan protektif dalam situasi darurat, ini satu-satunya jenis yang memang berfungsi sebagaimana mestinya.
Orang tua sering susah berhenti membentak karena cara ini kadang sepertinya berhasil dalam waktu singkat. Tetapi, anak berhenti bukan karena ia memutuskan untuk mengubah perilakunya, melainkan karena ia takut dan ingin teriakan itu berhenti. Seiring waktu, anak akan belajar menutup diri atau justru mengabaikan bentakan itu sama sekali.
Cara Berhenti Membentak Anak
Percaya nggak, setelah Mama-Papa membentak, pasti muncul perasaan menyesal. Ini karena orang tua sebenarnya sadar bahwa membentak atau berteriak memang bukan cara yang baik. Rasa frustrasi kita saat anak tidak mau mendengarkan itu yang memicu sikap kita.
Lalu bagaimana cara berhenti membentak anak?
Kenali pemicunya. Rasa lelah, stres karena pekerjaan, dan harapan-harapan yang belum juga terwujud sering kali jadi alasan utama orang tua mudah emosi. Jadi, bukan semata-mata karena ulah si kecil. Sadari pola ini sebelum situasi memuncak.
Tenangkan diri. Cara mengarahkan anak paling efektif itu biasanya setelah orang tua tenang, bukan kalau masih kesal dan marah. Jadi, tinggalkan ruangan sebentar sebelum merespons perilaku anak. Setelah tenang, baru jelaskan apa yang kita harapkan dari perilaku mereka, dan apa konsekuensinya.
Bedakan masalah anak dan masalah diri sendiri. Membentak itu biasanya bukan karena perilaku anak, melainkan manifestasi kebutuhan orang tua yang tidak terpenuhi. Entah gara-gara kita kurang tidur, merasa tidak dihargai, atau stres yang menumpuk dari pekerjaan, dan lain sebagainya.
Turunkan ekspektasi kita pada anak, agar tidak mudah marah saat rencana tak sesuai kenyataan. Rasa kecewa seringkali muncul karena kita menaruh harapan terlalu tinggi. Contohnya, membayangkan anak usia 6 tahun bisa anteng diajak mengikuti seminar, padahal sudah pasti ia akan bosan dan kelelahan.
Minta maaf jika sudah terlanjur. Saat terlanjur emosi dan membentak anak, minta maaflah pada anak untuk menunjukkan bahwa orang tua juga manusia yang bisa berbuat kesalahan. Dengan minta maaf, orang tua memberi contoh cara bertanggung jawab saat mereka sendiri hilang kendali. Lalu diskusikan perilaku anak yang memicu kemarahan tersebut karena perubahan perilaku anak juga dibutuhkan agar masalah tidak terulang.
Mam-Pap, bahasa keras yang digunakan terhadap anak bisa merusak mental mereka seumur hidup, lho. Kata-kata kita bukan sekadar bunyi, tetapi juga menjadi cara anak belajar memandang dirinya sendiri dan dunia.
Berhenti membentak bukan berarti berhenti tegas atau menyerah pada perilaku buruk. Hal ini menunjukkan orang tua tetap hadir dalam momen paling melelahkan sekalipun. Anak-anak tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka butuh orang tua yang mau berusaha.
Referensi:
1. Today's Parent
2. Science's Daily
3. Neurolaunch
4. UCL News