Kemelekatan Anak pada Benda Kesayangan: Kapan Masih Normal dan Kapan Perlu Dikhawatirkan?
Dipublikasikan: Sabtu, 15 Agustus 2026
Waktu membaca: 4 menit
MyKidz – Setiap anak pasti punya barang-barang favorit yang dibawa ke mana-mana, entah itu boneka, bantal atau guling, juga selimut. Mereka tidak mau tidur jika tidak sambil memeluk atau menggenggam benda kesayangannya itu. Jika Mama-Papa sekeluarga bepergian dan anak lupa membawa bonekanya, ia berkeras kembali ke rumah untuk mengambilnya.
Ada ciri khas yang mudah dikenali dari anak-anak yang melekat dengan benda kesayangannya, yaitu menolak bonekanya dicuci. Alhasil, benda-benda itu menjadi sangat lusuh. Namun, mereka tidak peduli kalau boneka atau bantalnya jadi berbau apek.
Awalnya perilaku tersebut memang mengundang senyum. Tetapi lama-kelamaan, Mama-Papa jadi khawatir juga. Normalkah kebiasaan tersebut? Coba kita pahami dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada anak.
Apa Itu Transitional Object?
Dalam psikologi perkembangan anak, bantal atau boneka kesayangan disebut transitional object, istilah yang diperkenalkan psikiater D.W. Winnicott. Benda ini merupakan kepemilikan pertama di luar diri anak (bukan dirinya atau ibunya), tapi bisa menghadirkan rasa aman yang sama.
Benda kesayangan ini menyimpan aroma anak, yang membuatnya teringat pada kamarnya yang nyaman, dan menimbulkan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Benda itu membantu anak tidur, menenangkan saat berpisah dari orang tua, dan membuat tempat yang asing jadi terasa lebih homey.
Kemelekatan anak pada benda kesayangannya terjadi karena anak percaya benda itu memiliki esensi yang tak tergantikan. Hal ini mirip cara orang dewasa memperlakukan peninggalan orang tercintanya. Tetapi buat anak, ini bukan sekadar benda biasa.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), sebagian besar anak mulai memilih benda kesayangannya antara usia 8 hingga 12 bulan, dan akan mempertahankannya selama bertahun-tahun.
Kemelekatan ini umumnya berkembang antara usia 1 hingga 3 tahun, ketika banyak perubahan besar terjadi dalam hidup anak. Misalnya, ketika anak mulai pindah dari boks bayi ke tempat tidur sendiri, atau mulai tidur di kamar terpisah.
Tidak semua anak memilihnya, dan itu juga normal-normal saja. Sebagian dari mereka menemukan rasa aman lewat rutinitas atau sikap orang tua yang selalu hangat.
Kapan Harus Mulai Waspada?
Sebagian besar anak secara bertahap melepaskan benda kesayangannya antara usia 2 hingga 5 tahun, meski ada juga yang memakainya lebih lama terutama saat tidur. Anak-anak biasanya meninggalkan benda kesayangan mengikuti ritme mereka sendiri. Dalam proses tersebut, hampir tidak pernah ada yang sampai harus dipaksa untuk melepaskannya.
Lalu kapan perlu mulai waspada?
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan ikatan kuat pada transitional object justru memiliki kelekatan yang lebih kuat pada orang tua dan lebih bahagia dibandingkan yang tidak. Keterikatan pada benda kesayangan ini menunjukkan adanya secure attachment.
Namun efek ini mulai berbalik seiring bertambahnya usia. Remaja yang masih sangat bergantung pada benda kesayangan dalam kehidupan sehari-hari bahkan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk.
Pedoman praktis dari Cornell University menyatakan bahwa kemelekatan perlu mendapat perhatian ekstra ketika kebutuhan anak terhadap benda tersebut secara konsisten mengganggu aktivitas bermain, tidur, makan, atau hubungan sosialnya. Sebab, hal itu bisa jadi merupakan tanda kecemasan yang berlebih.
Bukan Tanda Kelemahan
Ketika mengamati anak yang punya kemelekatan dengan bantal atau boneka kesayangannya, umumnya yang dikhawatirkan orang tua adalah, apakah pertumbuhan anak tidak sesuai usianya? Apakah ia tidak cukup percaya diri? Atau sebagai orang tua saya salah mengasuhnya?
Jawabannya, tidak. Anak yang tidak bisa lepas dari benda-benda pribadinya tidak memiliki masalah keterikatan atau kecemasan lebih besar dibandingkan anak yang tidak punya kebiasaan itu. Ini fase normal dari perkembangan anak, yang bisa membantunya melalui masa transisi lebih tenang.
Contohnya begini. Anak-anak yang membawa benda kesayangan mereka ketika dirawat di rumah sakit ternyata mengalami kecemasan lebih rendah selama tindakan medis. Ini membuktikan betapa kuatnya fungsi emosional benda-benda kecil tersebut.
Bagaimana Menyikapinya dengan Bijak?
Meskipun anak akan mulai meninggalkan kebiasaan membawa bonekanya ke mana-mana, proses transisinya bisa cukup menantang. Si Kecil mungkin akan sedih selama beberapa hari saat ia melihat guling kecilnya yang lusuh disingkirkan.
Namun, ada cara untuk mempersiapkan masa perpisahan itu lebih awal, sebelum transitional object tersebut menguasai emosi anak, misalnya:
Jangan paksa berpisah. Upaya Mama-Papa membujuk anak untuk melepaskan benda kesayangannya justru bisa mengakibatkan anak semakin tidak mau melepasnya.
Siapkan duplikat sejak awal. Jika anak memilih selimut besar, potong jadi dua. Biasanya anak tidak akan menyadarinya. Jika memilih mainan, cari duplikat sesegera mungkin. Kalau tidak dirotasi dari awal, anak bisa menolak benda kedua yang rasanya terlalu baru.
Beri akses di momen yang tepat. Pastikan anak bisa menjangkau benda kesayangannya saat dibutuhkan, terutama dalam situasi penuh tekanan seperti waktu tidur, pergi ke daycare, atau berkunjung ke dokter.
Percayai prosesnya. Tidak ada usia pasti kapan benda kesayangan harus dipensiunkan. Anak biasanya melepasnya secara alami ketika mereka menemukan cara lain menghadapi tekanan. Tugas orang tua bukan mempercepat proses itu, melainkan memastikan anak tumbuh dengan rasa aman yang cukup.
Jadi Mam-Pap, kain lusuh atau boneka yang sudah kumal itu bukan tanda kelemahan anak. Itu tanda bahwa anak sedang belajar membawa rasa aman ke dunia yang lebih besar. Bukankah ini merupakan bagian dari proses menjadi mandiri?
Referensi:
1. Healthychildren.org
2. Cornell University
3. Journal of Consulting and Clinical Psychology
4. International Journal of Psycho-Analysis