Kedekatan Kakek-Nenek dan Cucu, Antara Berkah dan Batas yang Perlu Dijaga

Dipublikasikan: Selasa, 4 Agustus 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Di banyak keluarga Indonesia, kakek dan nenek menjadi sosok sentral dalam kehidupan anak. Oma-Opa, Yangkung Yangti, atau Aki-Nini, biasa dititipi cucu saat orang tuanya bekerja. Mereka juga sering menjadi pelarian pertama ketika anak takut menyampaikan sesuatu kepada ayah atau ibunya.

Hal ini ternyata bukan sekadar tradisi, ada penjelasan secara ilmiah mengapa kakek-nenek mendapat tempat di hati cucunya. Namun seperti banyak hal dalam keluarga, hubungan yang hangat pun bisa melampaui batasnya. Kapan kehadiran kakek-nenek benar-benar sehat, dan kapan mereka mulai terasa seperti beban bagi orang tua?

Mengapa Hubungan Kakek-Nenek dan Cucu Begitu Istimewa

Dekat dengan kakek-nenek sejak kecil ternyata berpengaruh besar buat anak hingga masa dewasa muda. Menurut studi dari Frontiers in Psychology (2025), anak-anak yang tumbuh dengan hubungan ini cenderung memiliki mental yang lebih kuat dan hidup yang lebih memuaskan. Selain itu, tingkat stres dan depresi mereka juga jauh lebih rendah.

Mengapa bisa sebesar itu pengaruhnya?

Tidak seperti dengan orang tua, kakek-nenek cenderung tidak menekan cucu-cucunya. Orang tua kerap diasosiasikan dengan aturan dan tuntutan. Kakek-nenek, di sisi lain, bisa memilih untuk sekadar hadir. Mereka bisa mendengarkan keluh-kesah cucunya tanpa langsung menghakimi. Kakek-nenek bisa merespons dengan tenang, lalu membantu anak melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas.

Peran seperti itu sangat berharga buat anak, terutama anak yang selalu diharapkan untuk berprestasi dan berperilaku baik oleh orang tua. Kakek atau nenek menjadi tempat berlindung, yang bisa mengajarkan bahwa anak boleh membuat kesalahan dan tetap dicintai.

Sayangnya, pengaruh kakek-nenek terhadap perkembangan kognitif dan verbal cucunya masih kurang diteliti. Padahal dampaknya sangat nyata. Jangan kaget kalau Mama-Papa pulang dari kantor mendapati anak berbicara dengan kata-kata baru. Rupanya sepanjang hari anak sibuk bermain dan membaca buku cerita bersama kakek-neneknya.

Hubungan yang Kakek-Nenek dan Cucu yang Sehat

Keterlibatan kakek-nenek yang sehat ditandai oleh beberapa hal:

Hadir, tapi tidak menggantikan. Kakek-nenek dengan penuh kesadaran memberikan perhatian pada cucu, tetapi tidak mengambil alih keputusan pengasuhan dari orang tuanya. Mereka mendengarkan, tapi tidak menjadi pihak ketiga yang membela salah satunya.

Menguatkan, bukan melemahkan. Ketika gaya pengasuhan kakek-nenek dan orang tua selaras, anak tumbuh dengan rasa aman yang lebih stabil. Mereka juga lebih jarang menunjukkan masalah perilaku.

Menjaga batas peran. Kakek-nenek yang peduli tidak akan mengucapkan kalimat seperti, "Jangan bilang ke Mama, ya!". Sebab, hal itu menempatkan anak dalam posisi memihak, dan ini menjadi beban yang terlalu berat buat anak.

Kapan Hubungan Ini Mulai Tidak Sehat bagi Orang Tua?

Inilah bagian yang sering sulit dibicarakan karena menyangkut orang-orang yang kita cintai. Tindakan kakek-nenek yang meremehkan keputusan orang tua menjadi masalah yang paling sering terjadi dalam pola asuh bersama di rumah.

Dampaknya tidak main-main, Mam-Pap. Sebab, konflik kakek-nenek dengan orang tua secara tidak langsung berkaitan dengan kesulitan perilaku pada anak.

Nah, seperti apa tanda-tanda bahwa dinamika ini sudah melampaui batas?

Kakek-nenek menjadi satu-satunya tempat anak bercerita. Mereka bukan lagi menjadi tempat berlindung, melainkan pengganti hubungan orang tua-anak. Ketika anak tidak pernah mau berbicara dengan orang tuanya sendiri, ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Keputusan pengasuhan diambil alih tanpa diskusi. Mulai dari soal makanan, jadwal tidur, screen time, hingga dengan siapa anak boleh berteman, semua itu bisa menjadi sumber gesekan ketika kakek-nenek merasa mereka lebih tahu.

Ketika kakek-nenek terus-menerus memberikan saran padahal tidak diminta, orangtua jadi merasa dihakimi karena keputusan mereka dianggap tidak cukup baik.

Ada rahasia antara kakek-nenek dan cucu. Ini juga tidak bisa disepelekan. Ketika kakek-nenek menyimpan informasi penting dari orang tua, artinya mereka sudah mendobrak batasan peran yang ada.

Kakek-nenek mulai kelelahan. Ini kebalikan dari situasi di atas, dan sering pula terjadi. Orang tua yang terlalu menggantungkan nasib anak pada kakek-neneknya, bahkan menuntut tanggung jawab kakek-nenek sebagai pihak yang mendampingi anak sepanjang hari, bisa berdampak pada kesejahteraan mereka sendiri.

Ketika kakek-nenek merasa bersalah jika tidak bisa membantu anak, tidak bisa refreshing karena terus dititipi cucu, atau waktu istirahat mereka terganggu, ini tanda bahwa mereka sudah mulai terbebani.

Temukan Keseimbangan

Hubungan tiga generasi memang merupakan salah satu sistem paling kompleks dalam keluarga. Ketiganya bisa saling mempengaruhi, karena apa yang terjadi di satu sisi selalu berdampak pada sisi lain.

Mama-Papa tidak perlu memilih apakah harus melibatkan penuh atau membatasi semuanya, melainkan menjalin komunikasi yang jujur dengan kakek-nenek. Orang tua tetap menjadi kapten, kakek-nenek menjadi sekutu yang berharga, dan anak juga perlu tahu bahwa semua orang dewasa di sekelilingnya punya tujuan yang sama.

Bagaimanapun juga, yang dibutuhkan anak bukan memilih antara orang tua atau kakek-nenek, melainkan keduanya, dengan perannya masing-masing.

Referensi:

1. Frontiersin.org
2. PubMed Central
3. International Journal of Public Health
4. Journal of Family Theory and Review

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?