Lawnmower Parenting, ketika Orang Tua Terlalu Sering 'Jump In' dalam Hidup Anak
Dipublikasikan: Rabu, 10 Juni 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Apa yang Mama-Papa lakukan ketika anak lupa membawa tugas Science, padahal harus dikumpulkan hari ini? Atau ia salah memakai seragam putih merah padahal seharusnya memakai kemeja batik karena ada perayaan khusus di sekolah? Apakah Mama-Papa terburu-buru mengantarkan tugas dan membawakan kemeja batik ke sekolah?
Kalau iya, sepertinya Mama-Papa telah menerapkan “lawnmower parenting” pada anak. Mama-Papa khawatir anak akan mendapat hukuman dari guru dan mendapat nilai jelek karena lupa membawa PR-nya. Takut anak malu karena ia sendiri yang tampil berseragam sementara teman-temannya memakai batik. Padahal, semua itu karena anak yang lalai. Lupa tidak menyiapkan barang-barangnya sendiri. Atau, tidak menyimak instruksi dari gurunya.
Mirip dengan istilah “helicopter parenting”, lawnmower parents terlalu banyak turun tangan dalam kehidupan anak. Orang tua tidak ingin anak merasa kecewa, panik, atau tidak nyaman. Dengan melakukan hal itu, orang tua mengira mereka telah menjaga dan mendukung anak. Padahal, keterampilan problem solving anak jadi kurang berkembang. Mereka sering insecure dan tidak mampu mengatasi kegagalan.
Apa Itu Lawnmower Parenting?
Kalau diterjemahkan secara harafiah, lawnmower parenting artinya pola asuh mesin pemotong rumput. Maksudnya begini, orang tua tipe ini akan membabat habis setiap rintangan yang ada di depan anak. Mereka selalu maju paling depan untuk membereskan masalah, agar anak tidak merasakan kekecewaan, ketidaknyamanan, atau kegagalan.
Sekilas, tipe ini mirip dengan helicopter parenting. Bedanya terletak pada tindakan yang dilakukan orang tua. Helicopter parents cenderung mengawasi, memantau dari dekat, dan selalu merasa cemas dengan setiap gerak-gerik anak. Sedangkan lawnmower parents tidak hanya mengawasi, tetapi langsung bertindak membereskan hambatan sebelum anak mengalaminya.
Orang tua pemotong rumput akan ikut campur, baik untuk memperbaiki, menyelamatkan, dan menyelesaikan masalah. Orang tua tipe ini tidak cuma mengantarkan tugas sekolah anak yang ketinggalan di rumah, tetapi juga protes ke guru kalau anak mendapat nilai jelek.
Ciri-ciri Lawnmower Parent
1. Suka mengatur (ciri-ciri micromanagement). Orang tua mengontrol ketat urusan sekolah, pertemanan, sampai kegiatan di luar sekolah anak.
2. Kurang menghargai privasi, karena orang tua sering mengambil keputusan secara sepihak tanpa mendengar kemauan anak.
3. Terlalu melindungi, lantaran orang tua takut melihat anak gagal, sedih, atau frustrasi.
4. Anak tidak diajarkan bersikap untuk diri sendiri. Orang tua selalu mem-back up anak saat berhadapan dengan guru atau pihak berwenang lainnya.
5. Ikut campur dalam hubungan sosial anak, di mana orang tua akan langsung menengahi ketika anak bertengkar dengan temannya. Anak juga perlu belajar menyelesaikan masalahnya sendiri lho, Mam-Pap. Saat Mama-Papa sibuk komplain pada orang tua temannya, mungkin anak-anak itu sudah bermain bersama lagi.
Dampak Buruk bagi Anak dan Orang Tua
Pola asuh ini sebenarnya lahir dari rasa cinta yang besar dan kecemasan orang tua. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya mendapat yang terbaik, ya kan? Ini bukan bentuk kekerasan atau penelantaran kok, namun niat terlalu membantu ini malah bisa menghambat perkembangan sosial dan emosional anak.
Anak yang jalannya terlalu dimuluskan akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Mereka mudah panik atau pasrah saat menemui masalah kecil. Mereka merasa dirinya tidak mampu mengatasi masalah itu.
Dalam jangka panjang, anak bisa sering cemas, tidak tahan stres, dan selalu bergantung pada orang tuanya. Orang tua yang selalu menghilangkan hambatan, sama saja dengan menghilangkan kesempatan anak untuk belajar kuat dan mandiri.
Dampaknya tidak hanya pada anak, orang tua juga bisa kelelahan fisik dan mental. Waktu luang habis untuk mengurusi segala keperluan anak. Akibatnya, orang tua jadi rentan stres, sakit kepala, atau asam lambung naik.
Tips Menghindari Lawnmower Parenting
Kalau Mama-Papa merasa beberapa atau banyak dari poin di atas yang pernah Mama-Papa lakukan, jangan khawatir. Orang tua masih bisa mengubah pola asuh lawnmower ini untuk membantu anak lebih mandiri. Berikut tips praktis yang bisa dilakukan:
1. Jangan takut anak gagal. Biarkan mereka menghadapi tantangan. Berikan arahan seperlunya, tapi jangan mengambil alih solusinya.
2. Latih kemandiriannya. Beri anak kesempatan mengambil keputusan sendiri, seperti merapikan buku sekolah atau menyelesaikan sendiri konflik dengan temannya.
3. Biarkan anak merasakan konsekuensi atas perbuatannya. Jika anak lupa membawa tugas, biarkan ia menerima akibatnya di sekolah. Dengan begitu, anak belajar bertanggungjawab.
4. Ajarkan anak bersikap. Latih anak untuk berani bicara dan meminta bantuan sendiri saat menghadapi kesulitan sebelum mengadu ke orang tua.
5. Tanamkan jiwa yang tangguh. Beri tahu anak bahwa gagal itu normal, kok. Tetapi, ajarkan mereka cara bangkit lagi dari kegagalan itu.
6. Percaya pada kemampuan anak, bahwa pelan-pelan ia akan mampu menjaga dan mengurus dirinya sendiri.
7. Konsultasi ke psikolog jika perlu. Kalau Mama-Papa sulit melepaskan kontrol karena rasa cemas yang berlebihan, tidak ada salahnya berkonsultasi ke psikolog untuk mengurangi kerisauan tersebut.
Tentu saja, tidak semua keputusan turun tangan itu salah. Ketika anak terlibat dalam bullying di sekolah, baik sebagai korban maupun pelaku, orang tua bisa jump in untuk mengetahui duduk perkara sebenarnya dengan pihak sekolah. Ingat ya, untuk mencari tahu masalahnya lebih dulu, bukan langsung balik mem-bully orang tua murid bahkan guru.
Setiap anak pasti akan membuat kesalahan, tetapi tunjukkan bahwa mereka bisa selalu minta pendapat pada orang tua. Pada saat itulah, orang tua bisa mengajarkan apa yang harus mereka lakukan.
Referensi:
1. WebMD
2. Parents
3. TodaysMama