Napas Si Kecil Bunyi Ngik-ngik? Kenali Gejala dan Pemicu Asma pada Anak

Dipublikasikan: Sabtu, 30 Mei 2026

Waktu membaca: 4 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Salah satu momen yang bikin cemas adalah saat mendengar suara napas si kecil tiba-tiba berbunyi ngik-ngik atau mengi. Di dalam pikiran Mama-Papa pasti langsung muncul pertanyaan, "Apakah anak saya terkena asma?"

Namun, jangan berasumsi terlalu jauh ketika mendengar napas berbunyi seperti itu. Sebab, pada bayi dan anak batita, suara napas ngik-ngik itu sering kali dipicu oleh infeksi virus biasa, seperti batuk pilek atau bronkiolitis.

Napas berbunyi itu biasanya terjadi karena ukuran saluran pernapasan mereka masih sangat sempit. Ketika mereka terkena flu, saluran yang sempit itu akan membengkak dan sangat mudah terisi lendir. Akibatnya, aliran udara yang lewat memicu mengi, batuk, dan gejala lain yang mirip sekali dengan asma.

Tetapi tidak usah khawatir, kondisi ini tidak selalu berarti si kecil akan mengidap asma saat dewasa nanti. Dokter biasanya tidak bisa mendiagnosis asma hanya dari satu kali kejadian napas yang berbunyi. Bahkan, seringkali anak-anak yang sering mengalami gejala ini saat bayi akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. 

Itu sebabnya dokter umumnya baru bisa memastikan diagnosis asma secara akurat ketika anak sudah menginjak usia 4 atau 5 tahun. Sebelum anak mencapai usia tersebut, dokter tetap akan memberikan obat-obatan pernapasan untuk meredakan gejalanya.

Gejala Asma yang Perlu Diwaspadai

Namun, napas berbunyi memang salah satu gejala asma. Asma adalah kondisi yang menyebabkan gangguan pernapasan akibat peradangan dan penyempitan saluran udara di paru-paru. Hal ini membuat anak-anak kesulitan untuk mengalirkan udara masuk dan keluar, terutama saat mengembuskan napas.

Orang tua harus memperhatikan jika ada gejala asma seperti ini:
• Suara napas berbunyi ngik-ngik (wheezing).
• Anak mengeluh sesak atau dada terasa seperti diikat kencang.
• Batuk yang sering kambuh, terutama pada malam hari atau dini hari.
• Anak mulai mengeluh kepayahan saat beraktivitas fisik seperti berlari.
• Gejala mendadak memburuk saat cuaca dingin, terjadi perubahan suhu, atau saat terkena flu.

Kondisi yang paling berbahaya itu kalau terjadi serangan asma, di mana anak harus berusaha keras hanya untuk bernapas. Kalau obat yang biasa diberikan tidak mempan lagi meredakan serangan ini, orang tua harus segera membawa anak ke instalasi gawat darurat.

Faktor Pemicu Asma

Gejala asma tidak selalu muncul setiap hari. Banyak anak, terutama yang masih usia prasekolah, hanya akan menunjukkan gejala ketika ada faktor pemicu di sekitarnya. Di antaranya:
• Infeksi virus dan batuk pilek.
• Asap rokok dan polusi udara.
• Debu rumah (tungau debu) dan bulu hewan peliharaan.
• Serbuk sari tanaman dan cuaca dingin yang ekstrem.
• Aktivitas fisik berlebih (olahraga) serta stres.

Selain itu, sekitar tujuh sampai 10 persen anak usia sekolah yang mengalami serangan asma ternyata punya riwayat alergi. Jika asma si kecil dipicu oleh alergi, penanganannya tidak hanya fokus pada obat sesak saja, tetapi juga harus mengatasi sumber alerginya.

Tips untuk Mengelola Napas Anak

Pada dasarnya, ada beberapa langkah yang bisa Mama-Papa lakukan di rumah untuk menghadapi anak yang rentan mengalami sesak napas dengan tenang:

Kenali dan Hindari Pemicunya. Perhatikan kapan biasanya anak mulai batuk atau mengi. Jika karena debu, pastikan kamar anak selalu bersih. Jika karena asap rokok, pastikan rumah bebas dari paparan asap sama sekali.

Catat Pola Gejalanya. Buat catatan kecil jika anak mulai batuk di malam hari atau mengeluh sesak setelah bermain. Catatan ini akan sangat membantu dokter atau perawat asma saat Mama-Papa berkonsultasi.

Selalu Siap Sedia Obat: Pastikan obat pereda (reliever) selalu ada di dalam tas dan mudah dijangkau ke mana pun orang tua pergi bersama anak. Pengobatan yang paling umum adalah menggunakan inhaler (obat semprot).

Global Initiative for Asthma (GINA) dalam peringatan World Asthma Day 2026 pada 5 Mei lalu, menetapkan tema “Akses ke Inhaler Anti-Radang untuk Semua Penderita Asma Masih Menjadi Kebutuhan Mendesak”.

Melalui tema ini, GINA ingin terus mengingatkan semua pihak agar memastikan setiap penderita asma bisa dengan mudah mendapatkan obat hirup (inhaler). Obat ini sangat penting, baik untuk mengontrol penyakit asma dari dalam maupun untuk meredakan serangan sesak napas secara langsung.

Hari Asma Sedunia tahun ini juga menegaskan kembali bahwa setiap penderita asma, termasuk anak-anak usia prasekolah (di bawah 5 tahun), sebaiknya mendapatkan inhaler jenis kortikosteroid hirup. Penggunaan inhaler jenis ini sangat penting untuk menurunkan risiko terkena serangan asma parah sekaligus mencegah risiko kematian akibat asma yang sebenarnya bisa dihindari.

Kapan Harus ke Dokter?

Tanyakan apakah si kecil kemungkinan terkena asma, jika melihat tanda-tanda berikut pada anak:
• Napasnya berbunyi ngik-ngik sudah terjadi lebih dari satu kali (baik saat anak sedang sakit batuk-pilek maupun saat sehat).
• Batuknya tidak kunjung sembuh, atau malah makin parah di malam hari dan setelah mereka aktif bermain/berlari.
• Ada masalah atau keanehan lain pada cara bernapas anak yang membuat orang tua merasa khawatir.

Sebaiknya, Mama-Papa tidak melakukan self-diagnosis, ya. Kalau merasa ada yang tidak beres dengan cara bernapas si kecil, selalu percayakan pada saran medis dari dokter anak. Lebih baik tahu penanganan yang tepat sejak awal agar si kecil bisa tumbuh sehat dan tetap aktif.

Referensi:
1. Kidshealth.org
2. Ginasthma.org 
3. Allergyuk.org 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?