Bukan Hanya Bisa Baca-Tulis, Ini 5 Tanda Anak Siap Masuk Sekolah

Dipublikasikan: Senin, 1 Juni 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Apakah si kecil sudah siap untuk mulai sekolah? Ini pertanyaan klasik yang sering membuat orang tua galau. Secara umur, si kecil mungkin memang sudah pas untuk masuk gelombang pendaftaran sekolah berikutnya. Tetapi pertanyaannya: apakah mereka benar-benar sudah siap mental untuk memulai perjalanan pendidikan selama 15 tahun ke depan?

Kemendikdasmen melalui UU Sikdiknas No.20/2003 ayat 1 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mencakup anak usia 0-6 tahun. Untuk mempersiapkan anak masuk SD, kementerian juga mengeluarkan PP no 2 tahun 2018 yang diperjelas melalui Juknis Bantuan Pra SD tahun 2019. 

Mengapa orang tua harus memastikan anak benar-benar sudah siap masuk sekolah?

Pada usia 0-6 tahun, anak mengalami proses transisi dari rumah ke taman kanak-kanak (menjelang anak berusia 4 tahun) dan dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar. Artinya, PAUD merupakan suatu proses yang berkesinambungan sampai anak siap masuk sekolah dasar. 

Program PAUD dipersiapkan agar anak punya keterampilan yang diperlukan untuk dapat melangkah di jenjang berikutnya. Ketika anak sudah siap belajar di sekolahnya, kemungkinan untuk mengikuti kegiatan di sekolah lebih besar. Hal ini ditandai bukan saja dari kemampuan baca-tulis, tetapi juga mampu berteman, aktif terlibat di sekolah, dan punya semangat belajar yang baik. 

Selain itu, program PAUD juga penting untuk menanamkan kepercayaan diri pada anak, mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi pembelajar di sepanjang hidupnya.

Meski begitu, terkadang orang tua juga bingung membuat keputusan ketika anaknya berada di usia “nanggung”, di mana bulan lahir anak mepet dengan batas minimal usia masuk sekolah. Hal ini pun sebenarnya ada kaitannya dengan kesiapan anak masuk sekolah.

Nah, untuk membantu Mama-Papa memastikan apakah anak sudah siap masuk sekolah, ada beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan, yaitu:

Kesiapan Fisik dan Senso-motorik. Proses perkembangan ini sifatnya berkelanjutan pada pembentukan tulang, tumbuh kembang gerakan otot-otot dan saraf, sesuai dengan rentang usia anak. Aspek perkembangan ini mencakup dua keterampilan, yaitu keterampilan motorik kasar dan motorik halus. 

Sekolah TK menuntut anak untuk menggambar, menulis, menggunting, dan mengikuti jadwal pelajaran. Anak juga harus bisa berlari, melompat, menangkap bola, tetapi juga duduk tenang dalam waktu lama. Sementara itu, jam tidurnya juga berkurang drastis.

Kesiapan Kognitif. Perkembangan kognitif mengacu pada bagaimana proses berpikir, kecerdasan dan bahasa berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Pastikan anak sudah mampu memahami ucapan guru dan mengungkapkan keinginannya.

Anak juga harus sudah mampu berpikir logis, seperti mengenal sebab akibat, menunjukkan inisiatif, dan membuat rencana. Ia sudah mampu berpikir simbolik, sehingga bisa mengenali berbagai lambang huruf, menggunakan simbol saat bermain peran, dan sebagainya.

• Kesiapan Sosial-emosional. Kesiapan sosial ditunjukkan dengan kemampuan memahami, mengelola dan mengekspresikan emosi secara lengkap, baik emosi positif maupun emosi negatif. Anak menunjukkan perilaku bertanggung jawab, berinteraksi secara aktif dengan anak-anak lain, mau membantu orang lain, dan berani mengeksplorasi lingkungannya.

Sedangkan kesiapan emosional artinya mampu mengenali emosi sesaat yang dirasakan, mampu mengelolanya (misalnya mengekspresikan rasa kecewa, marah, sedih, atau senang) dan tidak berlebihan saat mengekspresikannya. 

• Peran Sekolah atau Rutinitas Saat Ini. Perhatikan lingkungan anak sekarang, misalnya jika ia sudah berada di kelompok bermain (preschool). Apakah tempat tersebut sudah melatih anak untuk mengantre, berbagi, dan bersosialisasi? 

Jika anak sudah terbiasa dengan rutinitas tersebut dan bersemangat menyambut sekolah baru, itu tanda mereka siap melangkah. Namun, jika mereka masih butuh terapi tumbuh kembang atau adaptasi ekstra, tunda lebih lama di tempat yang sekarang juga tidak masalah.

• Kondisi Sekolah yang Dituju. Lakukan riset kecil-kecilan terhadap TK yang Mama-Papa incar. Banyak TK zaman sekarang yang standarnya sudah mirip seperti anak kelas 1 SD, di mana porsi belajar akademis seperti calistung jauh lebih banyak daripada porsi bermain dan mengasah jiwa seni atau musiknya. Pastikan karakter sekolah tersebut memang cocok dengan kesiapan dan kemampuan anak saat ini.

Bagaimana dengan Kesiapan Orang Tua?

Agar anak siap masuk sekolah, stimulasi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan aspek fisik dan senso-motorik, kognitif, sosial-emosional, dan adaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Aspek-aspek perkembangan tersebut saling berhubungan, sehingga anak butuh stimulasi yang bersifat integratif. 

Di sinilah orang tua maupun guru berperan dalam proses transisi tersebut. Kenali kebutuhan-kebutuhannya yang unik agar anak merasa nyaman dengan lingkungan barunya. Tingkatkan interaksi dengan anak, dan buat jadwal harian untuk membiasakan anak mengikuti pola kegiatan tersebut.

Jangan lupa, rutinitas orang tua juga akan berubah, lho. Mulai dari urusan menyiapkan bekal, antar-jemput, hingga jadwal yang terikat jam sekolah. Mama-Papa adalah orang yang paling mengenali anak dan keluarga sendiri. Jangan merasa tertekan oleh standar orang lain, karena orang tua yang paling tahu kapan waktu terbaik untuk memulai balapan baru ini.

Referensi:
1. Kemendikdasmen 
2. Parent 
3. Kidspot 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?