Kebiasaan Bersih-BersihTelinga, Pengaruhi Kemampuan Bicara

Dipublikasikan: Jumat, 2 Januari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Mom/Dad, melihat kotoran telinga yang mengintip di telinga si Kecil sering kali membuat kita gemes ingin segera mengambil cotton bud. Kita merasa telinga yang bersih adalah tanda kebersihan yang terjaga.

Padahal, kebiasaan "bersih-bersih" ini justru menjadi bumerang. Telinga adalah organ yang sangat sensitif, dan penanganan yang salah dapat berdampak panjang pada kemampuan komunikasi anak.

Kotoran Telinga Bukanlah "Sampah"

Banyak orang tua menganggap kotoran telinga (serumen) sebagai tanda telinga kotor yang harus dibuang habis. Faktanya, serumen diproduksi oleh tubuh untuk tujuan mulia:

  • Perlindungan: Menjebak debu, kotoran, dan serangga kecil agar tidak masuk ke saluran telinga yang lebih dalam.
  • Anti-Bakteri: Memiliki sifat asam yang mencegah infeksi jamur dan bakteri.
  • Pelumas: Mencegah kulit di dalam saluran telinga menjadi kering dan gatal.

Hebatnya lagi, telinga memiliki mekanisme "self-cleaning". Melalui gerakan mengunyah dan berbicara, serumen akan terdorong keluar secara alami ke lubang telinga luar.

Kenapa Cotton Bud Berbahaya bagi Anak?

Menggunakan cotton bud pada anak justru sering kali menyebabkan masalah yang disebut Serumen Prop (penumpukan kotoran yang membatu).

  • Efek "Sodokan": Alih-alih terangkat, kotoran justru terdorong semakin dalam mendekati gendang telinga.
  • Risiko Luka: Kulit saluran telinga anak sangat tipis. Gesekan kapas yang kasar bisa menyebabkan luka dan infeksi (Otitis Externa).
  • Bahaya Gendang Telinga Pecah: Jika anak mendadak bergerak saat kita merogoh telinganya, cotton bud bisa menusuk dan merobek gendang telinga.

Hubungan Telinga Tersumbat dengan Keterlambatan Bicara

Ini adalah alasan utama: anak belajar bicara dengan cara mendengar dan meniru. Jika telinga tersumbat oleh kotoran yang terdorong ke dalam, maka:

  • Suara Terdistorsi: Anak mendengar suara seperti sedang berada di dalam air. Suara menjadi tidak jelas (muffled).
  • Kesalahan Artikulasi: Karena tidak mendengar bunyi huruf dengan sempurna (misalnya perbedaan 'B' dan 'P'), anak akan menirukan bunyi yang salah.
  • Hambatan Kognitif: Otak harus bekerja lebih keras hanya untuk memproses suara, sehingga energi untuk memahami makna kata menjadi berkurang.

Cara Aman Merawat Telinga di Rumah

Lalu, bagaimana cara membersihkannya? Ingat aturan emas ini: "Jangan masukkan apapun yang lebih kecil dari siku Anda ke dalam telinga."

Do's Don'ts
Bersihkan hanya bagian daun telinga luar menggunakan waslap basah atau handuk. Memasukkan cotton bud, korek kuping besi, atau jari ke dalam lubang telinga.
Gunakan cairan tetes telinga (atas resep dokter) jika serumen tampak keras. Menggunakan ear candle. Ini sangat berbahaya dan tidak terbukti efektif.
Periksakan ke dokter THT setiap 6 bulan untuk pembersihan profesional. Mencoba mencungkil kotoran yang sudah mengeras sendiri di rumah.

Kapan Harus Ke Dokter THT?

Segera konsultasikan jika Mom/Dad melihat tanda-tanda berikut pada si Kecil:

  • Anak sering menarik-narik telinga atau memasukkan jari ke telinga.
  • Anak tidak merespons saat dipanggil dengan suara normal (seperti tidak fokus).
  • Muncul bau tidak sedap atau cairan dari lubang telinga.
  • Anak mengalami keterlambatan bicara (speech delay) meskipun secara fisik tampak sehat.

Menjaga pendengaran adalah langkah awal memastikan masa depan bicara yang cemerlang.

MyKidz, Sahabat Tumbuh Kembang Anak.

Foto: Burst/Pexels.com

Referensi:

• American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery. (2017). Clinical Practice Guideline: Earwax (Cerumen Impaction).

• Roland, P. S., et al. (2008). Clinical practice guideline: Cerumen impaction. Otolaryngology–Head and Neck Surgery.

• World Health Organization (WHO). Deafness and hearing loss: Prevention.

• Northern, J. L., & Downs, M. P. (2014). Hearing in Children. Plural Publishing.

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?