Hindari Rabun Jauh Sejak Dini dengan Banyak Main di Luar

Dipublikasikan: Senin, 5 Januari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Pernahkah Mom dan Dad memperhatikan barisan anak usia prasekolah saat ini? Pemandangan anak-anak kecil dengan kacamata tebal kini menjadi hal yang sangat lumrah. Secara medis, fenomena global ini disebut sebagai "Pandemi Myopia". Myopia atau rabun jauh (mata minus) bukan sekadar masalah penglihatan biasa; ini adalah tantangan kesehatan serius yang sedang dihadapi generasi digital.

Kekhawatiran utama orang tua biasanya tertuju pada satu tersangka tunggal: Gadget. Kita sering mendengar peringatan, "Jangan main ponsel terus, nanti matanya rusak!" Namun, penelitian terbaru di bidang oftalmologi pediatrik membawa kabar mengejutkan: Membatasi waktu layar (screen time) saja ternyata tidak cukup kuat untuk mencegah mata minus. Ada satu "obat gratis" yang jauh lebih efektif namun sering kita abaikan, yaitu aktivitas di luar ruangan.

Memahami Mekanisme Mata yang "Memanjang"

Myopia terjadi ketika bola mata anak tumbuh terlalu panjang (aksial). Bayangkan bola mata yang seharusnya bulat sempurna, perlahan berubah bentuk menjadi lonjong seperti telur. Akibat perubahan bentuk ini, cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh tepat pada retina, melainkan di depannya. Hal inilah yang menyebabkan objek jauh terlihat buram.

Mengapa bola mata bisa memanjang? Secara biologis, mata anak sedang berada dalam masa pertumbuhan yang pesat. Faktor pemicunya adalah aktivitas jarak dekat yang intens (near work), seperti menatap layar gadget, membaca buku, atau menulis dalam waktu lama tanpa jeda. Namun, faktor yang lebih menentukan ternyata adalah kurangnya paparan cahaya alami.

Keajaiban "Vitamin O" (Outdoors) dan Dopamin

Mengapa aktivitas luar ruangan jauh lebih efektif mencegah mata minus dibanding sekadar berada di dalam ruangan tanpa gadget? Rahasianya terletak pada Dopamin.

Cahaya matahari di luar ruangan, bahkan di bawah pohon atau saat cuaca mendung, memiliki intensitas yang puluhan hingga ratusan kali lebih terang dibandingkan lampu di dalam rumah. Saat sel-sel di retina mata terpapar cahaya alami yang terang, tubuh akan merangsang pelepasan dopamin. Di dalam struktur mata, dopamin berfungsi sebagai "rem" atau sinyal pencegah agar bola mata tidak tumbuh terlalu panjang.

Sebaliknya, berada di dalam ruangan sepanjang hari dengan cahaya yang relatif redup membuat produksi dopamin ini minim. Tanpa "rem" alami ini, bola mata anak cenderung terus memanjang, terutama jika ditambah dengan aktivitas melihat jarak dekat yang terus-menerus.

Relaksasi Otot Mata dan Pandangan Jauh

Selain faktor kimiawi dopamin, aktivitas luar ruangan memberikan kesempatan bagi otot mata untuk beristirahat. Di dalam rumah, pandangan anak dibatasi oleh dinding. Mata mereka dipaksa untuk terus melakukan akomodasi (fokus) pada jarak menengah atau dekat.

Saat berada di taman atau lapangan, anak secara alami akan melakukan infinity focus yaitu melihat objek yang sangat jauh seperti awan, burung, atau gedung di ujung jalan. Hal ini merelaksasikan otot-otot siliaris mata yang tegang akibat penggunaan gadget. Aktivitas fisik di luar ruangan juga meningkatkan koordinasi mata dan tangan yang sangat penting bagi tumbuh kembang motorik mereka.

Memang sih, menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi adalah hal yang hampir mustahil. Namun, kita bisa menyeimbangkannya dengan langkah-langkah berikut:

  • Target 120 Menit: Usahakan anak menghabiskan waktu kumulatif minimal 2 jam setiap hari di luar ruangan. Tidak harus olahraga berat, sekadar bermain pasir atau duduk santai di teras sudah sangat membantu.
  • Aturan 20-20-20: Saat anak belajar atau menonton, setiap 20 menit, minta mereka melihat objek sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik untuk mengistirahatkan saraf mata.
  • Pencahayaan Ruangan: Pastikan area belajar anak memiliki ventilasi cahaya alami yang baik. Jangan biarkan mereka membaca di tempat yang remang-remang.
  • Deteksi Dini: Seringkali anak tidak sadar penglihatannya buram karena mereka menganggap semua orang melihat dengan cara yang sama. Pemeriksaan rutin sangat penting untuk mencegah minus bertambah parah (high myopia).

Membatasi gadget memang baik, namun memberikan waktu bagi anak untuk berinteraksi dengan matahari adalah perlindungan terbaik bagi penglihatan mereka di masa depan. Yuk, tutup layarnya sebentar dan ajak si Kecil keluar rumah hari ini!

Foto: RDNE Stock Project/Pexels.com

Referensi:

• Rose, K. A., et al. (2008). Outdoor Activity Reduces the Prevalence of Myopia in Children. Ophthalmology Journal.

• World Health Organization (WHO). (2019). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age.

• Wildsoet, C. F., et al. (2019). IMI – Interventions for Controlling Myopia Onset and Progression. Investigative Ophthalmology & Visual Science.

 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?