9—15 Maret 2025, Pekan Glaukoma Sedunia: Deteksi Dini Glaukoma pada Anak

Dipublikasikan: Sabtu, 15 Maret 2025

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Julie

Editor: Julie

 

Klinik MyKidz – Hari ini, Sabtu, 15 Maret 2025 adalah hari terakhir Pekan Glaukoma Sedunia yang berlangsung sejak tanggal 9 Maret kemarin. Sementara Hari Glaukoma Sedunia, yang merupakan bagian dari Pekan Glaukoma Sedunia, diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Maret.

Glaukoma adalah sekelompok penyakit yang terjadi akibat kerusakan saraf optik di mata saat tekanan di dalam mata terlalu tinggi—biasanya karena mata menghasilkan cairan tetapi tidak mengeluarkannya dengan baik. Kerusakan ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang parah.  

Menyoal glaukoma, umumnya yang langsung terbersit dalam benak adalah masalah mata pada orang lanjut usia. Ya, lansia di atas 60 tahun lebih berisiko terkena glaukoma. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi risikonya. Sekitar 5 persen lansia berusia 65 ke atas dan 10 persen lansia berusia 80 ke atas mengalami glaukoma. 

Meski lebih umum terjadi pada lansia, glaukoma sebenarnya dapat terjadi pada usia berapa pun, termasuk bayi. Hanya saja, glaukoma pada anak-anak—disebut juga glaukoma pediatrik—adalah kondisi mata yang langka dan pastinya serius. 

Glaukoma pediatrik dapat menyebabkan kehilangan penglihatan, jika tidak ditangani. Deteksi dan intervensi dini sangat penting untuk menghindari kerusakan permanen pada penglihatan anak.

 

Glaukoma pada anak-anak dapat bersifat primer atau sekunder.

 

# Glaukoma Kongenital Primer

"Kongenital" berarti penyakit tersebut sudah ada sejak lahir. "Primer" berarti tidak disebabkan oleh penyakit atau kondisi lain, seperti tumor

Glaukoma jenis ini menyerang anak-anak antara lahir hingga usia 3 tahun. Dokter biasanya mendeteksinya antara usia 3—6 bulan, tetapi mungkin tidak ada tanda-tanda pada awalnya. Kondisi ini dapat didiagnosis hingga usia 3 tahun.

Jika ditemukan sejak dini, 80—90 persen anak dengan glaukoma kongenital primer dapat merespons pengobatan dengan baik. Mereka tidak akan mengalami masalah penglihatan di kemudian hari.

Anak laki-laki dua kali lebih banyak yang mengalaminya daripada anak perempuan. Kadang hanya muncul pada satu mata, tetapi sering kali keduanya terpengaruh.

Ada beberapa jenis glaukoma kongenital primer yang terjadi saat lahir atau dalam beberapa tahun pertama kehidupan, yaitu: 

  • Glaukoma neonatal (terjadi saat lahir atau selama bulan pertama kehidupan).
  • Glaukoma infantil (terjadi antara bulan ke-1 hingga ke-24).
  • Glaukoma late-onset (terjadi antara usia 2—3 tahun).
  • Glaukoma juvenil (terjadi setelah usia 3 tahun).

 

# Glaukoma Sekunder

Glaukoma sekunder dapat muncul kapan saja selama masa kanak-kanak. Glaukoma sekunder sering dikaitkan dengan kelainan mata atau kondisi sistemik lainnya.

  • Aniridia (iris, yaitu bagian mata berwarna yang berbentuk seperti donat dan membentuk pupil, tidak berkembang secara normal). 
  • Sindrom Sturge-Weber (kelompok pembuluh darah abnormal pada kulit yang menyebabkan warna kemerahan pada satu sisi wajah dan kelompok pembuluh darah abnormal di otak). 
  • Sindrom Axenfeld-Reiger (kelainan genetik yang biasanya menyerang mata bayi, lebih dari separuh bayi yang lahir dengan sindrom ini mengalami glaukoma di beberapa titik dalam hidup mereka). 
  • Neurofibromatosis (benjolan tumbuh pada saraf di dalam tubuh, bisa berupa bintik-bintik datar berwarna pada kulit atau benjolan yang menonjol). 
  • Juvenile Idiopathic Arthritis
  • Sindrom Marfan

Selain itu, glaukoma sekunder juga dapat berkembang setelah trauma, operasi mata sebelumnya (seperti pengangkatan katarak pada anak), atau pengobatan steroid kronis.

 

Tanda dan Gejala Awal Glaukoma Pediatrik

Selain berbeda dari orang dewasa, juga tidak mudah untuk mengenali tanda dan gejala glaukoma pada bayi dan anak-anak. 

Sering kali gejalanya muncul secara samar dan bisa disalahartikan sebagai kondisi yang tidak terlalu parah. 

Gejalanya juga dapat sangat bervariasi, bergantung pada jenis glaukoma dan penyebab yang mendasarinya.

 

Berikut ini beberapa tanda peringatan dini yang paling umum:

*  Air mata berlebihan.

Ini merupakan salah satu indikator utama glaukoma pada bayi.

Meskipun bayi sering mengeluarkan air mata sesekali, air mata berlebihan yang tampaknya terus-menerus atau disertai gejala lain dapat menunjukkan tekanan tinggi pada mata, yang merupakan ciri khas glaukoma.

* Kornea berawan, berkabut, atau buram.

Gejala ini sangat mengkhawatirkan karena menunjukkan adanya gangguan signifikan pada tekanan normal dan keseimbangan cairan mata.

* Sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia).

Sensitivitas ini dapat menyebabkan mereka menyipitkan mata, mudah tersinggung saat terkena cahaya, atau lebih menyukai lingkungan yang remang-remang.

* Mata membesar (buphthalmos).

Ini tanda glaukoma yang paling terlihat secara visual, yaitu mata tampak lebih besar dari biasanya.

Sayangnya, sering kali keluarga lebih percaya bahwa si anak memiliki “mata yang besar dan indah”. Padahal, itu buphthalmos, salah satu tanda glaukoma pada anak.

* Masalah penglihatan.

Anak-anak dapat menunjukkan tanda-tanda kesulitan untuk fokus atau melacak objek. Masalah penglihatan ini dapat bermanifestasi sebagai kesulitan untuk mempertahankan kontak mata, kesulitan mengenali wajah—yang sudah dikenal—dari  kejauhan, atau ketidakmampuan menanggapi rangsangan visual.

 

Jika anak menunjukkan setiap gejala di atas, apalagi munculnya bersamaan, segera periksakan anak ke dokter spesialis mata.

Deteksi dini dan perawatan yang tepat memberikan peluang terbaik untuk mencegah gangguan penglihatan jangka panjang pada anak-anak dengan glaukoma. (*)

 

 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?