Deteksi Kanker Anak Sejak Dini

Dipublikasikan: Kamis, 5 Februari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Diagnosis kanker pada anak selalu menjadi kabar yang menggetarkan hati keluarga. Namun, di tengah kecemasan tersebut, pengetahuan adalah senjata paling ampuh. Berbeda dengan kanker pada orang dewasa yang sering kali dikaitkan dengan pilihan gaya hidup, kanker pada anak memiliki karakteristik unik yang memerlukan pendekatan berbeda, baik secara medis maupun psikologis.

Mengapa Anak Bisa Terkena Kanker?

Salah satu miskonsepsi yang sering menghantui orang tua adalah perasaan bersalah, menganggap kanker disebabkan oleh pola asuh atau lingkungan yang salah. Faktanya, hasil riset menunjukkan bahwa sebagian besar kanker pada anak disebabkan oleh mutasi genetik acak.

Pada masa kanak-kanak, sel-sel tubuh membelah dengan sangat cepat untuk mendukung pertumbuhan. Dalam proses yang sangat cepat ini, terkadang terjadi "kesalahan ketik" dalam kode genetik sel. Jika pada dewasa kanker butuh waktu puluhan tahun untuk berkembang akibat paparan polusi atau rokok, pada anak, kanker muncul karena gangguan perkembangan sel sejak dalam kandungan atau di masa awal pertumbuhan. Hanya sekitar 5-10 persen kasus kanker anak yang dipicu oleh faktor keturunan (genetik yang diwariskan).

Jenis Kanker yang Sering Menyerang Anak

Anak-anak jarang terkena kanker paru atau usus seperti orang dewasa. Mereka lebih rentan terhadap jenis kanker yang menyerang sistem pembentukan darah dan jaringan ikat. Berdasarkan data medis terbaru, berikut adalah jenis kanker yang paling sering ditemukan pada anak:

Jenis Kanker Persentase/Karakteristik Gejala Khas
Leukemia (Kanker Darah) Paling umum (~28-30% kasus) Pucat, lemah, sering memar, nyeri tulang.
Tumor Otak & Saraf Pusat Penyebab kematian tinggi Sakit kepala hebat, mual/muntah di pagi hari, gangguan keseimbangan.
Limfoma Kelenjar getah bening Pembengkakan kelenjar di leher, ketiak, atau selangkangan tanpa nyeri.
Retinoblastoma Kanker mata (balita) Pupil mata berwarna putih saat terkena cahaya/difoto dengan lampu kilat.
Neuroblastoma Sel syaraf muda Sering muncul sebagai benjolan di area perut.
Osteosarkoma Kanker tulang (remaja) Nyeri tulang yang hebat saat malam hari atau setelah aktivitas.

Tantangan Deteksi Dini

Tidak seperti kanker serviks atau payudara pada orang dewasa yang memiliki prosedur skrining rutin (seperti Pap Smear), kanker pada anak tidak memiliki metode skrining masal. Deteksi dini sepenuhnya bergantung pada kepekaan orang tua dan tenaga medis terhadap gejala-gejala samar yang sering kali mirip dengan penyakit anak biasa.

Gejala seperti demam berulang, lemas, atau nyeri tulang sering dianggap sebagai "nyeri pertumbuhan" (growing pains) atau infeksi biasa. Namun, jika gejala tersebut menetap dan tidak kunjung sembuh dengan pengobatan standar, pemeriksaan lebih lanjut menjadi wajib dilakukan.

Deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan; semakin cepat ditemukan, semakin kecil dosis pengobatan yang diperlukan, sehingga efek samping terhadap tumbuh kembang anak bisa diminimalisir.

Mendukung Tumbuh Kembang di Masa Pengobatan

Kanker tidak hanya menyerang sel fisik, tetapi juga mengancam fase perkembangan anak. Anak-anak yang menjalani kemoterapi jangka panjang berisiko mengalami hambatan motorik dan sosial karena isolasi di rumah sakit. Oleh karena itu, resiliensi dan play therapy menjadi sangat krusial.

Anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka butuh bermain meskipun di bangsal rumah sakit. Stimulasi kognitif melalui buku, gambar, dan interaksi sosial yang aman dapat membantu otak mereka tetap berkembang meskipun fisik mereka sedang berjuang melawan penyakit.

Kanker pada anak adalah perjalanan yang berat, namun dengan kemajuan teknologi medis tahun 2026, tingkat kesembuhan anak jauh lebih tinggi daripada dekade sebelumnya. Kewaspadaan orang tua dalam mengenali gejala awal dan dukungan psikososial yang kuat adalah kunci agar anak tidak hanya sekadar "bertahan hidup", tetapi juga tetap bisa tumbuh, bermimpi, dan meraih masa depan.

Foto: Tara Winstead/Pexels.com

Referensi:

  • American Cancer Society. (2024). Risk Factors and Causes of Childhood Cancer. Diambil dari https://www.cancer.org
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2020). Deteksi Dini Kanker pada Anak. Jakarta: IDAI. 
  • International Agency for Research on Cancer (IARC). (2023). World Cancer Report: Cancer in Children and Adolescents. Lyon: World Health Organization.
  • National Cancer Institute (NCI). (2024). Cancer in Children and Adolescents (PDQ®). Diambil dari https://www.cancer.gov
  • St. Jude Children's Research Hospital. (2025). Understanding Pediatric Cancer Genetics and Hereditary Syndromes. Memphis: St. Jude Media.
  • World Health Organization (WHO). (2021). CureAll Framework: WHO Global Initiative for Childhood Cancer. Geneva: WHO Press. 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?