Anak Makan Banyak tapi Kurus?
Dipublikasikan: Senin, 2 Februari 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Kita mungkin menganggap wajar jika si Kecil minum sangat banyak setelah bermain atau sering ke toilet. Namun, jika rasa haus tersebut tampak "tidak pernah tuntas" dan frekuensi buang air kecil meningkat drastis, terutama di malam hari, bisa jadi itu bukan sekadar rasa haus biasa.
Kesehatan metabolik adalah fondasi energi anak untuk belajar dan bertumbuh. Diabetes Tipe 1 pada anak adalah kondisi di mana tubuh tidak lagi mampu memproduksi insulin, hormon kunci yang mengubah gula menjadi energi.
Mengenali Gejala "Klasik" Diabetes Tipe 1
Diabetes pada anak sering kali muncul secara tiba-tiba. Waspadai tiga tanda utama yang disebut dengan istilah 3P:
- Polidipsi (Haus Berlebih): Anak terus-menerus merasa haus meskipun sudah minum banyak. Hal ini terjadi karena tubuh berusaha mengganti cairan yang hilang melalui urine.
- Poliuri (Sering Buang Air Kecil): Ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan gula melalui urine. Perhatikan jika si Kecil yang sudah tidak mengompol, tiba-tiba mulai mengompol lagi di malam hari.
- Polifagia (Lapar Berlebih): Meskipun makan banyak, berat badan anak justru turun atau sulit naik. Ini karena sel-sel tubuh "kelaparan" akibat gula tidak bisa masuk ke dalam sel tanpa bantuan insulin.
Mengapa Ini Terjadi pada Anak?
Berbeda dengan Tipe 2 yang sering dikaitkan dengan gaya hidup, Diabetes Tipe 1 biasanya bersifat autoimun. Sistem kekebalan tubuh anak secara keliru menyerang sel-sel di pankreas yang memproduksi insulin.
Tanpa insulin, gula (glukosa) menumpuk di aliran darah. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan bahan bakar yang dibutuhkannya untuk tumbuh kembang, sehingga anak sering merasa lemas, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi saat sesi terapi atau sekolah.
Dampak pada Tumbuh Kembang Si Kecil
Jika tidak terdeteksi sejak dini, kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat memengaruhi berbagai aspek:
- Pertumbuhan Fisik: Gangguan pada penyerapan nutrisi dapat menghambat pertumbuhan tinggi dan berat badan.
- Kemampuan Kognitif: Ketidakseimbangan gula darah yang ekstrem (terlalu tinggi atau terlalu rendah) dapat memengaruhi daya ingat dan fokus anak.
- Luka Sulit Sembuh: Sama seperti pada orang dewasa, kulit anak penderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi.
Langkah Deteksi
Jangan menunda jika Mom/Dad menemukan tanda-tanda di atas. Deteksi dini adalah kunci agar anak bisa tetap hidup sehat dan aktif. Langkah awal yang biasa dilakukan adalah:
- Pemeriksaan Gula Darah: Tes sederhana untuk melihat kadar glukosa dalam darah.
- Tes Urine: Mengecek apakah ada glukosa atau keton (zat sisa pembakaran lemak) yang terbuang melalui urine.
- Konsultasi Nutrisi: Mengatur pola makan seimbang yang mendukung kestabilan gula darah tanpa menghambat pertumbuhan.
Diabetes Tipe 1 adalah tantangan seumur hidup, namun bukan penghalang bagi si Kecil untuk berprestasi. Dengan pengelolaan insulin yang tepat dan dukungan nutrisi yang baik, anak tetap bisa bertumbuh seoptimal teman-teman sebayanya.
Di MyKidz, kami berkomitmen untuk mendampingi orang tua dalam memantau setiap aspek kesehatan anak, karena tubuh yang sehat adalah rumah bagi pikiran yang hebat.
Foto: RDNE Stock Project/Pexels.com
Referensi:
• IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Diagnosis dan Tata Laksana Diabetes Melitus Tipe 1 pada Anak dan Remaja.
• International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes (ISPAD). Clinical Practice Consensus Guidelines.
• Mayo Clinic. Type 1 Diabetes in Children: Symptoms and Causes.