Sabar: Keterampilan yang Diajarkan Sejak Kecil

Dipublikasikan: Jumat, 9 Januari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Di dunia yang serba instan saat ini - di mana video bisa diputar tanpa iklan, makanan datang dengan satu klik, dan jawaban tersedia dalam hitungan detik - kemampuan untuk "menunggu" menjadi keterampilan yang semakin langka sekaligus sangat berharga.

Padahal, kemampuan menunda keinginan (delayed gratification) bukan sekadar soal kesabaran. Ini adalah bagian inti dari Fungsi Eksekutif (Executive Function), yaitu sistem pusat kendali di otak yang memungkinkan anak merencanakan, memfokuskan perhatian, dan mengelola impuls.

Mengapa Menunggu itu Penting?

Pada akhir 1960-an, psikolog Walter Mischel melakukan eksperimen terkenal yang disebut "The Marshmallow Test". Seorang anak diberi satu marshmallow dan diberitahu: "Boleh dimakan sekarang, tapi kalau kamu bisa menunggu sampai saya kembali, kamu akan dapat dua."

Penelitian lanjutan selama berpuluh-puluh tahun menemukan hasil yang mencengangkan. Anak-anak yang mampu menunggu demi mendapatkan marshmallow kedua cenderung memiliki:

  • Nilai akademis yang lebih tinggi.
  • Kesehatan fisik yang lebih baik (indeks massa tubuh yang lebih rendah).
  • Ketahanan yang lebih kuat terhadap stres dan frustrasi.
  • Kemampuan sosial yang lebih matang dalam lingkungan pertemanan.

Menunda Keinginan: "Latihan Beban" Bagi Otak

Mengapa "menunggu" bisa memprediksi kesuksesan? Karena saat anak berusaha menunda keinginannya, otak mereka sedang melatih Kontrol Inhibisi. Ini adalah kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak dan menahan dorongan impulsif demi tujuan yang lebih besar.

Bayangkan Kontrol Inhibisi seperti rem pada mobil. Tanpa rem yang pakem, mobil (anak) akan meluncur bebas menabrak rintangan setiap kali melihat sesuatu yang menarik. Dengan melatih seni menunggu, kita sedang memperkuat "rem" di otak si Kecil sehingga mereka bisa menavigasi tantangan hidup dengan lebih terkendali.

Strategi Melatih Seni Menunggu di Rumah

Fungsi eksekutif bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan keterampilan yang perlu dilatih. Berikut adalah cara Mom & Dad dapat membantu si Kecil di rumah:

1. Gunakan Visualisasi Waktu pada anak-anak, terutama usia prasekolah, yang belum memiliki konsep waktu yang abstrak. Gunakan sand timer (jam pasir) atau jam visual. "Mommy akan bantu buka mainannya setelah pasir ini habis ya." Melihat waktu "bergerak" membantu mereka mengelola kecemasan saat menunggu.

2. Validasi Perasaan Mereka bahwa menunggu itu sulit, bahkan bagi orang dewasa. Katakan, "Ibu tahu menunggu itu membosankan dan rasanya ingin cepat-cepat makan kuenya. Ibu bangga kamu bisa bersabar." Validasi membantu mereka merasa dipahami sehingga emosi mereka tetap stabil.

3. Ajarkan Strategi Distraksi. Dalam eksperimen marshmallow, anak-anak yang berhasil adalah mereka yang memalingkan muka, bernyanyi, atau menutup mata. Ajarkan anak untuk melakukan aktivitas lain saat menunggu, seperti berhitung atau menggambar di udara.

4. Janji yang Harus Ditepati. Anak hanya akan mau menunda kepuasan jika mereka percaya bahwa hadiah di akhir itu nyata. Jika Mom berjanji akan bermain setelah selesai menelepon, pastikan Mom benar-benar melakukannya. Kepercayaan adalah fondasi dari kontrol diri.

Permainan Pelatih Kesabaran

Melatih fungsi eksekutif tidak harus membosankan. Melalui permainan, anak belajar mengendalikan dorongan impulsif mereka tanpa merasa sedang "dihukum".

Berikut adalah tabel permainan sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk memperkuat "rem" di otak si Kecil:

Tabel Permainan Pelatih Kontrol Impuls (Inhibitory Control)

Nama Permainan Cara Bermain Manfaat bagi si Kecil
Lampu Merah, Lampu Hijau Anak berlari saat Mom bilang "Lampu Hijau" dan harus berhenti total saat Mom bilang "Lampu Merah". Melatih otak untuk segera menghentikan gerakan fisik (inhibisi) meskipun sedang bersemangat.
Patung Musik (Freeze Dance) Putar lagu favorit dan ajak anak berjoget. Saat musik dihentikan mendadak, anak harus menjadi "patung" dalam posisi apa pun. Mengasah kontrol tubuh dan melatih atensi terhadap perubahan instruksi yang tiba-tiba.
Kata Simon (Simon Says) Anak hanya boleh mengikuti instruksi jika diawali kata "Kata Simon". Jika Mom bilang "Pegang hidung" tanpa kata kunci, anak tidak boleh bergerak. Melatih anak untuk berpikir sebelum bertindak (atensi selektif) dan tidak sekadar meniru tanpa berpikir.
Balap Siput Berbeda dengan balapan biasa, pemenangnya adalah yang paling lambat sampai ke garis finis tanpa berhenti total. Melatih regulasi diri yang sangat tinggi karena anak harus menahan insting alami untuk berlari cepat.
Tunggu Bel Letakkan camilan kecil (seperti biskuit) di depan anak. Katakan ia boleh memakannya hanya setelah mendengar suara bel/alarm (set waktu 1-3 menit). Latihan langsung untuk delayed gratification (menunda keinginan) demi mendapatkan kepuasan di akhir.

Melatih anak untuk menunda keinginan tidak berarti kita menjadi orang tua yang pelit atau kejam. Sebaliknya, kita sedang membekali mereka dengan salah satu alat paling kuat untuk masa depan mereka. Anak yang bisa menunggu adalah anak yang nantinya akan mampu belajar giat untuk ujian, menabung untuk masa depan, dan tetap tenang di bawah tekanan kerja.

Foto: Mochi Mochi/Pexels.com

Referensi:

• Mischel, W., et al. (1989). Delay of gratification in children. Science.

• Diamond, A. (2013). Executive Functions. Annual Review of Psychology.

• Center on the Developing Child at Harvard University. Building the Brain's "Air Traffic Control" System: How Early Experiences Shape the Development of Executive Function.

• Duckworth, A. L., & Seligman, M. E. (2005). Self-discipline outdoes IQ in predicting academic performance of adolescents. Psychological Science.

 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?