Anak adalah Cermin Emosi Orang Tua
Dipublikasikan: Rabu, 14 Januari 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Pernahkah Mom melihat si Kecil tiba-tiba menirukan gaya bicara Dad saat sedang menelepon, atau melihatnya berpura-pura menenangkan bonekanya dengan nada bicara yang persis seperti Mom?
Banyak orang tua menganggap ini sekadar aksi lucu "meniru". Namun, di dunia neurosains dan tumbuh kembang anak, fenomena ini adalah kerja luar biasa dari sistem saraf yang disebut Mirror Neurons (Sel Saraf Cermin). Sebelum anak belajar dari buku atau sekolah, mereka belajar dari "kurikulum hidup" yang paling utama: Perilaku Orang Tuanya.
Apa Itu Mirror Neurons?
Ditemukan pertama kali pada tahun 1990-an, mirror neurons adalah kelompok sel saraf di otak yang aktif dalam dua kondisi: saat kita melakukan suatu tindakan, dan saat kita melihat orang lain melakukan tindakan yang sama.
Artinya, saat si Kecil melihat Mom menarik napas panjang untuk tetap tenang, otak si Kecil akan "menyalakan" saraf yang sama seolah-olah ia sendiri yang sedang melakukan teknik pernapasan tersebut. Otak anak secara harfiah mencerminkan pengalaman emosional orang di sekitarnya. Inilah mengapa anak sering disebut sebagai "spons emosional".
Meniru Cara Mengelola Stres
Fokus utama dari mirror neurons bukan hanya pada gerakan fisik (seperti cara memegang sendok), melainkan pada regulasi emosi.
Ketika orang tua menghadapi situasi stres, misalnya saat terjebak macet atau menumpahkan susu di lantai, reaksi yang muncul akan menjadi cetak biru (blueprint) bagi otak anak.
- Skenario A: Jika orang tua merespons stres dengan teriakan atau bantingan pintu, sel saraf cermin anak akan merekam bahwa "marah dan meledak" adalah cara standar menghadapi masalah.
- Skenario B: Jika orang tua mencoba berkata, "Aduh, ini membuat Ibu stres, Ibu mau tarik napas sebentar ya," saraf anak akan merekam bahwa "jeda dan regulasi" adalah cara yang tepat untuk mengelola emosi.
Inilah yang disebut dengan Co-regulation. Anak tidak bisa menenangkan dirinya sendiri jika mereka tidak pernah melihat (dan "mencerminkan") ketenangan dari orang tuanya.
Perilaku Orang Tua: Kurikulum yang Tak Pernah Libur
Anak-anak adalah pengamat yang jauh lebih hebat daripada pendengar. Kita bisa saja memberi nasihat tentang "sopan santun" selama berjam-jam, namun jika mereka melihat kita tidak ramah kepada asisten rumah tangga atau kurir paket, maka perilaku itulah yang akan menetap di otak mereka.
Sistem saraf cermin membuat anak tidak hanya belajar apa yang kita lakukan, tapi juga niat dan perasaan di baliknya. Mereka bisa merasakan ketegangan di bahu kita atau getaran di suara kita. Inilah mengapa Self-Care bagi orang tua adalah bagian dari Child-Care. Saat orang tua belajar mengelola emosinya sendiri, mereka sebenarnya sedang memberikan terapi perkembangan terbaik bagi otak anak.
Check-list: Apa yang Sedang Dicermin si Kecil?
Anak-anak tidak hanya meniru gerakan fisik, mereka menyerap energi dan pola di balik tindakan kita. Coba perhatikan hal-hal berikut:
- Cara Merespons Kesalahan: Saat menumpahkan air atau menjatuhkan barang, apakah kita menghela napas tenang atau langsung mengeluh kesal? Si Kecil akan meniru "derajat ketenangan" tersebut saat ia melakukan kesalahan sendiri.
- Penggunaan Gadget: Jika kita ingin anak mengurangi screen time, apakah mereka sering melihat kita asyik dengan ponsel saat sedang bersama mereka?
- Volume Suara: Saat ingin menenangkan anak yang berteriak, apakah kita merespons dengan volume yang lebih tinggi atau justru merendahkan suara? Suara yang rendah akan memicu mirror neurons anak untuk ikut tenang.
- Bahasa Tubuh saat Mendengarkan: Apakah kita menatap mata mereka saat mereka bercerita, atau mendengarkan sambil lalu? Ini membentuk cara mereka menghargai orang lain kelak.
- Cara Mengelola Marah: Apakah kita memberikan jeda (seperti masuk ke kamar sebentar) saat emosi memuncak? Anak akan belajar bahwa "jeda" adalah solusi, bukan ledakan.
Cara Menjadi "Cermin" yang Positif bagi Anak
Bagaimana kita bisa memanfaatkan kerja mirror neurons untuk tumbuh kembang anak yang optimal?
- Narasi Emosional: Berikan label pada perasaan Mom/Dad di depan anak. "Ayah sedang lelah sekali hari ini, Ayah mau duduk tenang dulu 5 menit supaya tidak marah-marah." Ini mengajarkan anak cara mengenali dan mengelola perasaan.
- Tunjukkan Resiliensi: Jangan takut jika anak melihat Mom melakukan kesalahan. Yang penting, biarkan mereka melihat bagaimana Mom memperbaiki kesalahan tersebut.
- Hadir Secara Utuh: Saat bermain dengan anak, simpanlah ponsel. Sel saraf cermin bekerja maksimal melalui kontak mata dan ekspresi wajah yang tulus.
- Praktikkan Empati: Saat anak menangis, alih-alih menyuruhnya berhenti, cobalah cerminkan perasaan mereka dengan wajah yang tenang namun peduli. Ini membantu mereka merasa dipahami secara biologis.
Orang tua adalah terapis pertama dan utama bagi anak. Melalui kekuatan mirror neurons, setiap tindakan kecil yang kita lakukan untuk menjaga ketenangan diri adalah pelajaran berharga bagi kesehatan mental si Kecil di masa depan.
Ingatlah, si Kecil mungkin tidak selalu mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka tidak pernah gagal untuk meniru siapa kita.
Foto: Henry Suwardi/Pexels.com
Referensi:
• Rizzolatti, G., & Craighero, L. (2004). The mirror-neuron system. Annual Review of Neuroscience.
• Iacoboni, M. (2009). Imitation, Empathy, and Mirror Neurons. Annual Review of Psychology.
• Decety, J. (2011). The Neuroevolution of Empathy. Annals of the New York Academy of Sciences.
• Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2011). The Whole-Brain Child.