Mengenal Hantavirus: Gejala, Masa Inkubasi, dan Cara Penularannya
Dipublikasikan: Minggu, 10 Mei 2026
Waktu membaca: 4 menit
MyKidz - Awal Mei ini, muncul wabah penyakit hantavirus yang menyebar di kapal pesiar Belanda MV Hondius. Para penumpang dan awak kapal yang berlayar dari Argentina itu diduga tertular strain Andes dari virus tersebut pada Rabu (6/5/2026).
Dari sekitar 150 penumpang, ada delapan orang yang sudah dinyatakan positif atau diduga terinfeksi hantavirus, sedangkan tiga orang meninggal dunia.
Mungkin kita belum mengenal hantavírus, tetapi penyakit ini ternyata sudah pernah ada di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, menurut Kementerian Kesehatan RI, sudah ada 250 lebih kasus suspect, namun ada 23 kasus yang dinyatakan positif hantavirus varian Seoul. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya meninggal dunia.
Saat ini pun, ada dua kasus suspect hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta. Namun menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, hasil pemeriksaan menyatakan keduanya negatif dan sudah dinyatakan sembuh. Kedua pasien tidak punya riwayat perjalanan ke luar negeri.
Aji juga menegaskan, sejauh ini di Indonesia belum ada kasus hantavírus dari varian Andes seperti yang terjadi di MV Hondius. Kasus di Indonesia merupakan paparan dari varian Seoul dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Meski begitu, ada baiknya Mama-Papa mengetahui seperti apa sebenarnya hantavírus ini.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) adalah penyakit pernapasan zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus hantavirus dari genus Orthohantavirus. Kalau Mama-Papa ingat penyakit cacar monyet atau ebola, itu juga contoh virus zoonosis.
Penyakit HCPS sendiri disebabkan oleh virus yang dibawa oleh tikus. Ada banyak jenis virus dalam kelompok ini, tetapi yang paling sering menyebabkan masalah kesehatan serius adalah virus Sin Nombre (di Amerika Utara) dan Andes (di Amerika Selatan).
Kasus hantavirus pada manusia paling sering terjadi di daerah pedesaan, seperti hutan, ladang, dan pertanian, di mana banyak terdapat hewan pengerat.
Gejala Hantavirus
Penyakit ini biasanya dimulai dengan gejala seperti flu, termasuk nyeri otot (mialgia), menggigil, demam, dan sakit kepala. Ada juga yang mengalami gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut, diikuti dengan sesak napas dan hipotensi secara tiba-tiba.
Menurut World Health Organization (WHO), tipe penyakit yang disebabkan oleh hantavirus bervariasi tergantung wilayahnya. Di Amerika, infeksi lebih sering menyebabkan HCPS yang memengaruhi paru-paru dan jantung. Sedangkan di Eropa dan Asia, penyakit ini lebih sering menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal, yang memengaruhi ginjal dan pembuluh darah.
Setiap strain hantavirus punya tingkat keparahan yang berbeda. Namun, infeksi bisa berubah menjadi parah dengan cepat dan mematikan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, 38 persen orang yang mengalami gejala pernapasan akibat penyakit ini berisiko meninggal dunia.
Cara Penularan
Penularan virus hantavirus ke manusia terjadi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang sudah terinfeksi. Infeksi juga bisa menular melalui gigitan tikus, meski ini jarang sekali terjadi.
Jika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi, ini juga bisa meningkatkan risiko terinfeksi. Misalnya, membersihkan ruangan tertutup atau pengap, bertani, bekerja di hutan, atau tidur di tempat yang banyak tikusnya.
Sampai sekarang, penularan dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada jenis varian Andes di wilayah Amerika, dan itu pun kasusnya sangat jarang. Jika memang terjadi penularan antarmanusia, biasanya disebabkan oleh kontak fisik yang sangat dekat dan lama, seperti antaranggota keluarga atau pasangan.
Masa Inkubasi
Strain Andes dari hantavirus, seperti yang menyebar di kapal MV Hondius, bisa berpindah dari orang ke orang. Hal ini perlu diwaspadai, karena masa inkubasi virus (periode waktu yang dibutuhkan setelah terinfeksi hingga menunjukkan gejala) biasanya terjadi dalam dua hingga empat minggu. Namun, gejala itu bisa juga muncul paling cepat satu minggu dan paling lambat delapan minggu setelah paparan terjadi.
Karena itu, seseorang yang sudah terinfeksi bisa saja belum menunjukkan gejala tapi menghabiskan waktu bersama orang lain, sehingga tanpa disadari menginfeksi orang lain dengan virus.
Seberapa banyak paparan yang dibutuhkan untuk terinfeksi? Ini belum dapat dijelaskan. Namun, biasanya virus Andes menyebar melalui kontak dekat, seperti ketika orang berbagi tempat tidur. Dua orang yang meninggal karena hantavirus di kapal pesiar tersebut adalah pasangan suami istri.
Tidak Ada Obat atau Perawatan Khusus
Menurut WHO, hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk hantavirus maupun vaksin hantavirus, sehingga pengobatan bersifat suportif. Kementerian Kesehatan meminta masyarakat untuk menjaga diri dengan cara berikut:
1. Melaksanakan protokol kesehatan seperti:
• Mencuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer.
• Menutup mulut ketika batuk dan bersin.
2. Menghindari kontak langsung dengan rodensia (tikus/celurut) atau ekskresi dan sekresinya.
3. Menjaga kebersihan area tempat tinggal dan tempat kerja.
4. Menyimpan makanan/minuman dengan aman untuk mencegah kemungkinan terkontaminasi rodensia.
5. Menutup semua lubang di dalam maupun luar rumah untuk mencegah tikus masuk ke dalam rumah.
6. Segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala hantavirus seperti (demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise, ikterik/jaundice atau batuk dan sesak napas).
Apakah Hantavirus Bisa Menjadi Pandemi?
Meski hantavirus mungkin akan terus menyebar, kemungkinan besar tidak akan memicu pandemi seperti COVID-19. Tidak seperti COVID-19 yang sangat menular dan menyebar dengan cepat antarmanusia, hantavirus jauh lebih lambat penyebarannya. Satu orang yang sakit biasanya hanya menularkan ke satu orang saja. Bahkan, bisa juga tidak menularkan sama sekali.
Karena sekarang kita sudah tahu tentang wabah ini, dokter di rumah sakit bisa langsung memeriksa siapa saja yang punya gejala sesak napas atau masalah jantung. Terutama, dalam kasus MV Hondius, jika mereka pernah berinteraksi dengan orang-orang dari kapal tersebut.
Meski hantavirus tidak menyebar dengan cepat, kita tetap tidak boleh menganggap remeh. Infeksi ini bisa berakibat fatal bagi mereka yang mengalami gangguan pernapasan berat. Pasien bisa saja butuh perawatan ICU, butuh alat bantu jantung dan paru-paru, hingga ventilator (alat bantu napas).
Jadi, semakin cepat kita menangani gejala awalnya, kemungkinan untuk sembuh semakin besar.
Referensi:
1. WHO
2. Kementerian Kesehatan RI
3. Forbes
4. Yahoo Health
5. DW