Kasus Campak Melonjak Lagi, Ini Risiko Jika Vaksin MMR Tertunda!
Dipublikasikan: Selasa, 28 April 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Memasuki awal tahun 2026, Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terjadi di 14 provinsi. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kasus yang cukup tinggi di berbagai wilayah, dari Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga ke Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.
KLB campak ini perlu diwaspadai. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat, sebagian dari kasus campak tersebut telah mengakibatkan kematian. Misalnya saja, dari 11.094 kasus campak yang terkonfirmasi tahun 2025, terdapat 69 kasus kematian.
Sedangkan dari 572 kasus campak yang terkonfirmasi sampai minggu ke-7 tahun 2026, terdapat 4 kasus kematian. Selain itu, puluhan wilayah masih dinyatakan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) hingga bulan Maret 2026.
Banyaknya kasus campak tersebut bahkan menempatkan Indonesia di posisi kedua kasus campak tertinggi di dunia. Menurut data World Health Organization yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention per Februari 2026, Yaman menduduki peringkat pertama, dan peringkat ketiganya India.
Meskipun pada minggu ke-13 telah terjadi penurunan jumlah kasus (dari 2.220 pada minggu pertama menjadi 195 kasus), orang tua masih harus waspada. Penyebab utama ledakan kasus ini adalah banyaknya anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Oleh karena itu dinas kesehatan melalui Outbreak Response Immunization (ORI) sudah mengupayakan “imunisasi kejar” di sejumlah daerah.
Risiko Jika Imunisasi Tertunda
Banyaknya jadwal imunisasi rutin yang terganggu atau terlewat antara lain dipicu oleh pandemi COVID-19 yang terjadi beberapa tahun lalu. Anak menjadi kelompok paling rentan terinfeksi campak karena belum pernah mendapatkan imunisasi Campak-Gondongan-Rubella (Measles-Mumps-Rubella/MMR). Akibatnya, anak tidak memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.
Saat ini, cakupan imunisasi nasional kita baru mencapai 82 persen. Padahal, agar kuman campak tidak mudah menular dari satu anak ke anak lain (dengan terjadinya kekebalan kelompok atau herd immunity), setidaknya 95 persen anak di suatu lingkungan harus sudah divaksin.
Keterlambatan memberikan imunisasi campak harus segera dikejar agar anak menerima perlindungan yang menjadi haknya. Memangnya apa sih risiko jika imunisasi MMR ini tertunda?
• Bukan Sekadar Demam dan Ruam
Mama/Papa, campak itu bukan sekadar demam dan bercak merah biasa. Campak disebabkan oleh infeksi virus Morbillivirus yang sangat agresif. Bayangkan, satu orang yang kena campak bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang lainnya dalam sekejap.
Kalau anak kita belum divaksin, mereka jadi target empuk di sekolah atau tempat bermain. Risikonya bisa sampai radang paru (pneumonia) atau infeksi otak yang sangat berbahaya.
• Bahaya yang Tidak Terlihat
Mungkin kita merasa anak kita kuat. Tapi, bagaimana dengan bayi tetangga yang umurnya baru 6 bulan? Mereka belum bisa menerima vaksin MMR dan sangat bergantung pada kekebalan kelompok.
Jika anak membawa virus karena vaksinnya tertunda, kita bisa tanpa sengaja membahayakan bayi-bayi di sekitar kita atau ibu hamil. Jika ibu hamil tertular rubela, dampaknya bisa sangat menyedihkan bagi bayi dalam kandungan, seperti cacat jantung atau gangguan pendengaran.
• Bukan Penyakit Anak-anak Biasa
Kita sering menganggap gondongan itu sepele. Padahal, jika menyerang anak laki-laki dan terjadi komplikasi, efeknya bisa sampai ke masalah kesuburan saat mereka dewasa nanti. Ada juga risiko kehilangan pendengaran secara permanen.
Memberikan vaksin tepat waktu adalah cara termudah untuk memastikan masa depan anak terbebas dari risiko fisik yang sebenarnya bisa dicegah.
Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Telat?
Menunda vaksin itu pada dasarnya seperti membiarkan pintu rumah terbuka lebar di lingkungan yang rawan. Memang rumah kita belum tentu akan dimasuki maling, tapi untuk apa kita harus ambil risiko itu?
Untungnya, tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan vaksin campak. Kalau jadwal imunisasi si kecil terlewat, jangan sampai tidak mau ke dokter karena merasa akan sia-sia. Langkah terbaik adalah segera menghubungi Puskesmas, dokter anak, atau MyKidz Clinic untuk menjadwalkan "imunisasi kejar".
Tenang, tenaga kesehatan setempat tentunya tidak akan menyalahkan Mama/Papa karena terlambat mengantar si kecil imunisasi. Mereka justru akan membantu mengatur jadwal agar perlindungan anak kembali optimal.
Yuk, cek lagi buku KIA atau catatan kesehatan si kecil. Segera lengkapi kalau ada yang terlewat. Melindungi anak kita berarti melindungi seluruh lingkungan kita juga, lho. Jangan ditunda lagi ya, Mam, Pap!
Referensi:
Pandemi Senyap 2026: Mengapa Anak Indonesia Kembali Diserang Campak? Diambil dari: https://www.suara.com/news/2026/04/14/084942/pandemi-senyap-2026-mengapa-anak-indonesia-kembali-diserang-campak#google_vignette
Why Delaying the MMR Vaccine Can Put Your Child at Risk. Diambil dari: https://hmipharmacy.co.uk/news/mmr-vaccine/
Parents Who Delay Baby's First Vaccines also Likely to Skip Measles Shots. Diambil dari: https://www.nbcnews.com/health/kids-health/delaying-vaccines-measles-risk-report-rfk-jr-rcna251735