Jangan Buru-Buru Pasang Badan, Anak Tangguh Justru Belajar dari Kegagalan
Dipublikasikan: Sabtu, 24 Oktober 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Setiap orang tua punya naluri yang sama, yaitu melindungi anak dari kegagalan dan rasa sakit. Saat gagal, anak pasti akan mengalami kekecewaan. Inilah yang tidak diharapkan orang tua, sehingga kita berusaha keras agar anak tidak mengalami itu semua.
Tapi para peneliti perkembangan anak meyakini bahwa melindungi anak secara berlebihan itu malah bisa jadi hambatan terbesar dalam mengasah ketangguhan dalam diri anak. Istilah psikologinya, resiliensi.
Resiliensi itu bukan berarti anak tidak pernah gagal ya, Mam-Pap. Kita menjadi tangguh justru kalau kita mampu bangkit lagi setelah jatuh, mampu beradaptasi dengan kesulitan, dan terus tumbuh. Anak yang tangguh tidak hanya cepat bangkit saat gagal, tapi juga paham kalau rasa sedih atau kecewa itu cuma sementara, dan mereka pasti bisa melewatinya.
Perlu diketahui, resiliensi itu bukan sifat bawaan. Ketangguhan itu proses yang bisa dibangun, dan orang tua bisa membantu anak membangun proses tersebut.
Biarkan Mereka Merasakan Kesulitan
Menurut Harvard Center on the Developing Child, faktor yang akan selalu menumbuhkan sifat tangguh pada anak bukan prestasi akademis atau kekayaan materi, melainkan kehadiran minimal satu orang dewasa yang selalu mendukung dan bisa diandalkan. Makin banyak orang dewasa yang positif di sekitar anak, seperti kakek-nenek, guru, atau pelatih, makin kuat mental si kecil menghadapi masalah.
Ada lima elemen utama yang membuat anak tahan banting menghadapi masalah, yaitu informasi yang jelas, dukungan dari lingkungan sekitar, keluarga yang hangat, kemampuan anak mengatasi masalah, dan pola asuh yang konsisten menetapkan aturan.
Agar anak tidak mudah menyerah, Mama-Papa kadang perlu menahan diri untuk tidak langsung turun tangan. Kegagalan akan mengajarkan anak cara bangkit, pantang menyerah, dan memecahkan masalah, yang tidak bisa kalau cuma diajarkan lewat nasihat. Membiarkan anak gagal memang awalnya akan membuat mereka menangis, tetapi kalau orang tua selalu membantu anak, hal itu justru membuat mereka rapuh saat menghadapi stres di masa dewasa.
Kalau orang tua selalu menghindarkan anak dari kegagalan atau buru-buru mengambil alih semua masalahnya, anak justru kehilangan momen berharga untuk belajar mandiri. Bukan berarti kita harus cuek. Anak hanya perlu tahu bahwa kita percaya pada kemampuan mereka. Daripada langsung dan membereskan masalahnya, cukup katakan, "Memang nggak enak rasa sedihnya, tapi kamu pasti bisa melaluinya."
Cara Memuji yang Membangun Ketangguhan
Menurut peneliti Dr. Carol Dweck dari Stanford University, cara memuji anak itu sangat mempengaruhi keberanian anak menghadapi tantangan. Pujian berbasis karakter seperti "Kamu memang pintar" membuat anak memiliki fixed mindset. Akibatnya mereka percaya kemampuannya terbatas dan takut mencoba hal baru karena takut gagal.
Sebaliknya, pujian berbasis proses seperti "Mama lihat kamu sudah bekerja keras" membentuk growth mindset. Anak jadi percaya bahwa kemampuannya bisa berkembang lewat usaha. Saat gagal, mereka tidak merasa dirinya bodoh, tetapi terdorong untuk mencoba cara lain.
Pujian yang spesifik dan tepat sasaran juga lebih efektif. Ketimbang mengatakan “Hebat!", coba "Tadi kamu tidak menyerah meskipun soalnya susah, makanya kamu bisa menyelesaikannya."
Ajarkan Anak Mengelola Emosi
Tapi memuji dengan cara yang tepat saja belum cukup. Anak yang tangguh juga perlu tahu bahwa perasaan tidak nyaman bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang bisa dihadapi. Di sinilah peran orang tua sebagai emotional coach menjadi penting.
Prosesnya melibatkan tiga langkah:
Pertama, validasi bahwa semua emosi boleh dirasakan, entah itu marah, sedih, takut sekalipun.
Kedua, tetapkan batasan pada perilaku, bukan perasaan.
Ketiga, problem-solve bersama untuk situasi serupa di masa depan.
Resiliensi Adalah Proses, Bukan Tujuan Akhir
Anak yang pandai mengelola emosinya punya daya tahan mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Kemampuan ini menjadi benteng perlindungan terbaik bagi kesehatan jiwanya, terutama jika didukung oleh rasa percaya diri, sikap optimistis, serta keterampilan dalam bergaul.
Jangan lupa, anak paling mudah belajar dengan mengamati, bukan dari mendengarkan. Ketika orang tua menghadapi kesulitan dengan tenang dan mengakui kesalahan tanpa berlarut-larut, anak menyerap itu semua sebagai pelajaran hidup.
Mama-Papa bisa mengingatkan anak tentang momen ketika mereka berhasil melewati kesulitan. "Kamu ingat dulu waktu awal masuk sekolah baru kamu nervous banget? Sekarang? Banyak banget teman kamu." Ini bukan sekadar pujian, tetapi juga membangun narasi diri anak sebagai seseorang yang mampu beradaptasi dan tangguh.
Tidak ada anak yang menjadi tangguh dalam semalam. Ketangguhan mereka juga bisa naik-turun tergantung situasi, dan anak mungkin lebih mudah bangkit dari satu jenis kesulitan dibanding kesulitan lainnya.
Tugas orang tua bukan memastikan anak tidak pernah jatuh, melainkan meyakinkan bahwa setiap kali mereka jatuh ada seseorang yang percaya mereka bisa bangkit lagi. Sampai mereka pun akhirnya meyakini hal yang sama.
Referensi:
1. Raising Children Network
2. Big Life Journal
3. Frontiers in Psychology
4. PMC