Jangan Tanya "Gimana Tadi di Sekolah?". Ini Pertanyaan yang Bikin Anak Mau Bercerita
Dipublikasikan: Minggu, 11 Oktober 2026
Waktu membaca: 4 menit
MyKidz - Setiap anak pulang sekolah, kebanyakan orang tua akan mengucapkan kalimat yang sama seperti, "Gimana tadi di sekolah?" atau “Bekalnya habis, nggak?”. Pertanyaan itu hampir selalu ditanggapi anak dengan jawaban singkat, “Abis.” Atau, “Biasa aja.” Tanpa memalingkan pada orang tua, anak kembali tenggelam dengan Youtube-nya.
Siapa yang relate dengan situasi tersebut? Sad banget, kan? Udah kehabisan akal cara membuat anak mau bercerita lebih banyak, anak pun jadi seperti merahasiakan sesuatu. Mama-Papa merasa diabaikan.
Sebenarnya, jawaban singkat itu bukan karena anak tidak mau bercerita. Bukan pula karena memang tidak ada hal menarik yang terjadi. Tapi karena pertanyaan orang tua memang terkesan basa-basi, dan tidak membuka kesempatan untuk bercerita.
Di Balik Percakapan yang Membuka Diri
Menurut psikolog anak, pertanyaan seperti itu terlalu di awang-awang untuk anak. Sama halnya ketika Mama-Papa ditanya, "Bagaimana hidup kalian dua puluh tahun terakhir?" Kita tidak tahu kan, harus mulai dari mana?
Begitu juga dengan anak. Mereka tidak tahu bagian mana dari waktunya di sekolah yang dianggap penting, sehingga memilih jawaban paling aman: biasa aja.
Pertanyaan tertutup, yang bisa dijawab dengan "ya" atau "tidak" atau satu kata, akan terus dijawab ala kadarnya oleh anak. Sebaliknya, pertanyaan terbuka yang diawali dengan kata “apa, siapa, kapan, di mana, atau mengapa”, akan mendorong anak untuk berbicara lebih panjang dan lebih detail. Misalnya, "Apa yang paling seru?", atau "Siapa yang duduk di sebelahmu?". Ia jadi lebih terlibat dalam percakapan.
Riset Developmental Science (2024) dari University of Southampton menunjukkan bahwa cara kita bicara itu berpengaruh besar ke perasaan anak. Saat sering diajak ngobrol dan ditanya-tanya hal seru, anak merasa lebih disayangi dibanding cuma disapa sekadarnya. Pertanyaan sederhana dari kita bisa bikin hubungan dengan anak makin dekat.
Sering ngobrol jujur ternyata juga bikin mental anak lebih sehat. Anak jadi nggak gampang cemas, stres, atau depresi. Obrolan singkat sepulang sekolah itu penting banget lho, Mam-Pap, untuk mempererat hubungan kita sama si kecil sampai dia dewasa nanti.
Yang Perlu Dilakukan Sebelum Bertanya
Sebelum memberikan pertanyaan yang bisa memancing obrolan, ada satu hal yang sering diabaikan orang tua, yaitu kapan pertanyaan itu sebaiknya dilontarkan.
Anak-anak juga butuh waktu untuk istirahat sehabis sekolah. Kalau baru sampai rumah langsung diberondong pertanyaan, mereka bakal merasa diinterogasi, bukan disambut. Kita juga sering begitu kan, saat pulang kerja. Inginnya leyeh-leyeh dulu, bukan langsung ditanya bagaimana cara mewujudkan perdamaian di dunia ini.
Saat anak tiba di rumah dengan wajah lusuh, berikan dulu pelukan, tawarkan camilan, atau biarkan beberapa menit tanpa pertanyaan. Tahan dulu pertanyaan Mama-Papa saat dia sudah lebih santai, entah saat makan malam, dalam perjalanan, atau menjelang tidur.
Pertanyaan yang memancing obrolan dengan anak
Ketika mau ngobrol dengan anak, tanyakan hal-hal spesifik soal kegiatan atau apa yang dialami anak di sekolah seharian, bukan cuma soal PR atau nilai sekolahnya. Seperti ini contoh pertanyaan yang bisa langsung dicoba, sesuai usia anak:
Untuk Anak Usia 4–8 Tahun
Anak seusia ini membayangkan hal-hal yang nyata saja. Jadi, beri pertanyaan yang singkat dan gampang dibayangkan, serta tidak membuat mereka berpikir keras.
• "Tadi kamu duduk sama siapa waktu makan?"
• "Ada nggak yang bikin kamu ketawa hari ini?"
• "Tadi main apa waktu istirahat?"
• "Menurut kamu, hari ini lebih seru waktu mana, waktu istirahat atau pulang?"
• "Siapa teman yang paling baik sama kamu hari ini?"
Untuk Anak Usia 8–12 Tahun
Di usia ini, anak mulai bisa memahami pengalaman yang dialaminya sendiri dan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Bisa juga melanjutkan cerita yang disampaikan anak pada hari sebelumnya. Pertanyaan yang diberikan pun bisa lebih dalam.
• "Tadi waktu di sekolah, kamu paling seneng waktu lagi ngapain?"
• "Ada nggak yang susah banget dikerjain hari ini?"
• "Gimana kabarnya Si A, masih bete dia gara-gara kotak pensilnya diumpetin?"
• "Hari ini ada yang bikin kamu merasa hebat, nggak?"
• "Di kelasmu siapa sih yang paling lucu? Kenapa?"
• "Kalau hari ini bisa diulang, apa yang mau kamu ubah?"
Pertanyaan yang Bikin Anak Mau Berbagi Perasaan
Ini pertanyaan yang paling jarang ditanya orang tua, padahal penting banget buat ngajak anak cerita soal perasaannya, bukan cuma kegiatan seharian.
• "Ada kejadian hari ini yang bikin kamu happy? Atau justru nggak suka?"
• "Gimana perasaan kamu sekarang, dari satu sampai sepuluh?"
• "Ada yang masih bikin kamu kepikiran dari tadi?"
Mama-Papa, pertanyaan sebagus apa pun bakal sia-sia kalau mendengarnya setengah hati. Mendengarkan secara utuh, tanpa memotong atau buru-buru memberi solusi, itu sama pentingnya dengan pertanyaan itu sendiri.
Saat anak mulai bercerita, tahan dulu keinginan untuk menasihati (apalagi menghakimi). Cukup ulangi ucapan mereka ("Oh, jadi tadi kamu merasa...") dan biar saja mereka melanjutkan ceritanya. Anak itu tidak selalu butuh jalan keluar, kok. Kadang mereka cuma mau didengarkan. Mereka ingin tahu bahwa orang tuanya peduli.
Referensi:
1. Today's Parent
2. Easy Feast
3. Frontiers in Psychology
4. Developmental Science
5. JCPP Advances