Kecerdasan Emosional Dimulai dari Labeling Feelings.
Dipublikasikan: Rabu, 28 Januari 2026
Waktu membaca: 3 menit
MyKidz - Mengenali emosi anak tentu tidak mudah. Tapi penting. Dan jauh lebih penting mengajarkan anak mengenali emosinya sendiri. Sehingga anak tidak perlu menangis histeris karena tidak paham pada apa yang dirasakannya.
Bagi anak-anak, emosi adalah sesuatu yang besar, abstrak, dan sering kali menakutkan. Dengan demikian, kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan akademik. Itulah mengapa kita perlu mengenal Social-Emotional Learning (SEL), dengan teknik dasar yang sangat kuat: Labeling Feelings (Menamai Perasaan).
Apa Itu Labeling Feelings?
Labeling feelings adalah proses sederhana di mana orang tua membantu anak mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang mereka alami. Secara neurosains, saat kita menamai sebuah emosi, aktivitas di pusat emosi otak (Amygdala) cenderung menurun, dan pusat logika (Prefrontal Cortex) mulai mengambil alih.
Ibarat sebuah badai, memberi nama pada emosi adalah cara kita memberikan "jangkar" agar si Kecil tidak terseret arus perasaannya sendiri.
Menamai Perasaan Bisa Mengurangi Tantrum
Tantrum sering kali terjadi karena frustrasi komunikasi. Anak merasakan sesuatu yang tidak nyaman di tubuhnya, tetapi tidak tahu itu apa dan tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
Saat kita membantu mereka berkata, "Oh, adek merasa kecewa ya karena mainannya rusak?", kita memberikan mereka alat komunikasi. Ketika anak merasa "didengar" dan "dipahami" secara emosional, kebutuhan mereka untuk berteriak atau memukul biasanya akan berkurang secara signifikan. Mereka tidak lagi perlu "meledak" untuk menunjukkan bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.
Membangun Empati Sejak Dini
Selain meredam tantrum, SEL melalui teknik pelabelan ini adalah benih dari empati.
- Mengenali Diri Sendiri: Anak belajar bahwa "aku merasa sedih".
- Mengenali Orang Lain: Anak mulai menyadari bahwa "teman aku juga bisa merasa sedih".
Tanpa kemampuan menamai perasaan sendiri, anak akan kesulitan memahami perasaan orang lain. Inilah fondasi utama karakter anak yang peduli dan mampu bersosialisasi dengan baik di masa depan.
Teknik Praktis Menamai Perasaan di Rumah
Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Mom/Dad terapkan:
- Gunakan Kata Emosi yang Spesifik: Jangan hanya gunakan kata "senang" atau "sedih". Mulailah perkenalkan kata seperti bangga, khawatir, kesal, malu, atau terkejut.
- Validasi, Jangan Interogasi: Alih-alih bertanya "Kenapa kamu nangis?!", cobalah berkata: "Ibu lihat matamu berkaca-kaca, sepertinya kamu merasa sedih karena harus berhenti bermain ya?"
- Gunakan Alat Bantu Visual: Kita bisa menggunakan "Poster Perasaan" dengan gambar ekspresi wajah. Ini membantu anak menunjuk apa yang mereka rasakan saat kata-kata sulit keluar.
- Jadilah Model (Mirroring): Namai juga perasaan Mom. "Ibu merasa senang sekali hari ini karena bisa makan siang bareng kamu." Ini menunjukkan bahwa membicarakan perasaan adalah hal yang normal dan sehat.
Daftar Kata Emosi sesuai Usia
Usia 1 - 2 Tahun (Emosi Dasar)
Pada usia ini, fokuslah pada emosi yang paling terlihat secara fisik. Gunakan ekspresi wajah yang jelas saat mengucapkannya.
- Senang: Saat mendapat mainan atau pelukan.
- Sedih: Saat jatuh atau harus berpisah sebentar dengan Mom.
- Marah: Saat keinginannya tidak dituruti.
- Takut: Saat mendengar suara keras atau bertemu orang asing.
Usia 3 - 4 Tahun (Emosi Menengah)
Anak mulai memahami bahwa emosi bisa muncul karena situasi tertentu. Kita bisa mulai memperkenalkan kata yang lebih spesifik.
- Kaget/Terkejut: Saat ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi.
- Sayang: Saat merasakan kehangatan bersama keluarga atau hewan peliharaan.
- Kesal: Versi "ringan" dari marah, misalnya saat sulit menyusun balok.
- Malu: Saat menjadi pusat perhatian atau melakukan kesalahan.
- Khawatir: Saat merasa tidak aman tentang apa yang akan terjadi.
Usia 5 Tahun ke Atas (Emosi Kompleks)
Di usia prasekolah, anak mulai bisa memahami emosi yang berkaitan dengan harga diri dan hubungan sosial.
- Bangga: Saat berhasil melakukan sesuatu sendiri (seperti memakai sepatu).
- Kecewa: Saat ekspektasinya tidak terpenuhi (misal: hujan saat ingin ke taman).
- Iri/Cemburu: Saat melihat teman punya mainan baru atau saat Mom menggendong anak lain.
- Bosan: Saat tidak ada aktivitas yang menarik baginya.
- Sabar: Belajar menahan diri untuk menunggu giliran.
Mengajarkan anak menamai perasaan adalah investasi seumur hidup. Anak yang cerdas secara emosional akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh (resilient), mampu mengelola stres, dan memiliki hubungan sosial yang berkualitas.
Anak yang hebat dimulai dari hati yang dipahami.
Foto: Kampus Production/Pexels.com
Referensi:
• Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL). Fundamentals of SEL.
• Gottman, J. (1997). The Heart of Parenting: How to Raise an Emotionally Intelligent Child.
• Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2012). The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies to Nurture Your Child's Developing Mind.