Hari Gizi vs Pengalaman Makan Si Kecil

Dipublikasikan: Sabtu, 24 Januari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Tanggal 25 Januari adalah Hari Gizi Nasional. Ini adalah momentum untuk memastikan setiap anak mendapatkan nutrisi terbaik. Namun, nutrisi tidak akan masuk jika proses makannya sendiri masih menjadi beban. Bagaimana nutrisi bisa cukup jika membuka mulut untuk makan saja sulit?

Banyak orang tua merasa frustrasi, stres, atau bahkan merasa "gagal" saat si Kecil melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang berkepanjangan. Seringkali, lingkungan sekitar melabeli si Kecil sebagai anak yang "nakal", "keras kepala", atau "pilih-pilih makanan" (picky eater).

Mari kita melihat fenomena GTM dari sudut pandang yang berbeda.

Tahukah Mom/Dad, sering kali yang terjadi di meja makan bukan sekadar masalah perilaku, melainkan adanya tantangan sensori.

Ketika Makan Menjadi Pengalaman yang "Menakutkan"

Bagi kebanyakan kita, makan adalah kegiatan yang menyenangkan. Namun bagi anak dengan Gangguan Sensori Integrasi, makan bisa menjadi pengalaman yang membanjiri panca indra mereka secara berlebihan (sensory overload).

Anak-anak ini tidak sedang mencoba menguji kesabaran kita, mereka benar-benar merasa tidak nyaman. Berikut adalah beberapa perspektif sensori yang mendasari GTM:

  • Sensitivitas Tekstur (Taktil): Ada anak yang merasa tekstur lembek (seperti bubur atau alpukat) terasa "menjijikkan" di mulut seperti lumpur. Sebaliknya, ada yang hanya mau makanan renyah karena memberikan sensasi tekanan yang jelas pada rahang.
  • Sensitivitas Aroma (Olfaktori): Bau nasi yang baru matang atau aroma sayur tertentu bisa terasa sangat tajam dan menyengat bagi hidung mereka, hingga memicu rasa mual.
  • Sensitivitas Visual: Anak mungkin hanya mau makan makanan dengan warna tertentu (misalnya kuning semua seperti nugget dan kentang goreng) karena warna lain terlihat "asing" dan tidak aman di mata mereka.
    Bantu Anak "Berteman" dengan Makanan

Pada Terapi Okupasi, anak bukan dipaksa untuk makan, melainkan membantunya melakukan desensitisasi sensori. Ini adalah proses pelatihan untuk mengurangi sensitivitas berlebih terhadap suatu rangsangan.

Ibarat kulit kita yang kaget saat masuk ke air dingin, tapi lama-kelamaan menjadi biasa, itulah desensitisasi. Pada anak dengan gangguan makan, otak mereka menganggap tekstur atau bau makanan tertentu sebagai "ancaman" atau sesuatu yang berbahaya. Melalui proses ini, kita membantu otak mereka untuk tidak lagi bereaksi berlebihan.

Bagaimana caranya?

  • Eksplorasi Tanpa Tekanan: Kami membiarkan anak bermain dengan makanan menggunakan tangan (tekstur) sebelum memasukkannya ke mulut. Tujuannya agar otak anak mencatat bahwa tekstur tersebut "aman".
  • Oral Motor Exercise: Melatih kekuatan otot rahang dan lidah agar anak lebih percaya diri saat mengunyah tekstur yang berbeda.
  • Food Chaining: Memperkenalkan makanan baru yang memiliki kemiripan (warna atau rasa) dengan makanan favorit anak secara bertahap.
  • Menciptakan Lingkungan Tenang: Mengatur suasana makan yang minim distraksi agar sistem saraf anak tidak semakin stres.

Jadi, jika si Kecil mengalami GTM yang sangat selektif, mungkin dia hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda untuk mengenal rasa dan tekstur. Dengan terapi yang tepat dan kesabaran, ambang batas sensori anak bisa meningkat, dan meja makan bisa kembali menjadi tempat yang penuh senyuman.

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels.com

Referensi:

• Ayres, A. J. (2005). Sensory Integration and the Child.
• Dunn, W. (2007). Supporting Children to Participate Successfully in Everyday Life by Using Sensory Processing Knowledge.
• American Occupational Therapy Association (AOTA). The Role of Occupational Therapy in Feeding, Eating, and Swallowing.
 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?