Mengapa Anak Sekarang Lebih Cepat Puber?

Dipublikasikan: Jumat, 30 Januari 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Candra Widanarko

Editor: Candra Widanarko

MyKidz - Pubertas adalah fase yang pasti dilewati setiap anak, namun apa jadinya jika fase ini datang terlalu cepat? Belakangan ini, banyak orang tua merasa khawatir karena melihat tanda-tanda kedewasaan fisik muncul pada anak mereka di usia yang masih sangat dini.

Pubertas Prekoks (Dini) bukan sekadar masalah perubahan fisik yang lebih cepat, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan tinggi badan jangka panjang dan kesiapan psikologis anak.

Apa itu Pubertas Prekoks?

Secara medis, pubertas dianggap dini jika tanda-tanda perkembangan seksual sekunder muncul:

  • Pada anak perempuan: Sebelum usia 8 tahun (tanda awal biasanya pertumbuhan payudara).
  • Pada anak laki-laki: Sebelum usia 9 tahun (tanda awal biasanya pembesaran testis).

Mengapa Anak Zaman Sekarang Pubertas Lebih Cepat?

Fenomena tren sekuler ini (kecenderungan pubertas yang lebih awal dari generasi sebelumnya) dipicu oleh beberapa faktor gaya hidup modern:

  • Status Nutrisi & Obesitas: Ini adalah faktor utama. Jaringan lemak yang berlebih dalam tubuh anak memicu produksi hormon estrogen lebih awal. Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak jenuh mempercepat proses ini.
  • Paparan Endocrine Disruptors: Zat kimia dalam kehidupan sehari-hari (seperti BPA pada plastik tertentu atau bahan kimia dalam kosmetik) dapat "meniru" hormon estrogen dalam tubuh, yang secara tidak sengaja memicu sinyal pubertas.
  • Faktor Lingkungan & Paparan Konten: Stimulasi visual melalui gadget yang belum sesuai usia secara tidak langsung dapat memengaruhi kerja hipotalamus di otak yang mengatur hormon reproduksi.

Makanan Pemicu Pubertas Dini

  1. Makanan Tinggi Gula & Karbohidrat Olahan:
    • Contoh: Minuman manis kemasan, boba, roti putih, dan camilan manis.
    • Alasan: Gula berlebih memicu lonjakan insulin yang dapat meningkatkan kadar hormon estrogen dalam tubuh.
  2. Makanan Cepat Saji (Junk Food) & Gorengan:
    1. Contoh: Ayam goreng tepung cepat saji, kentang goreng, dan makanan tinggi lemak trans lainnya.
    2. Alasan: Makanan ini tinggi kalori yang memicu obesitas. Jaringan lemak (adiposa) adalah pabrik penghasil estrogen tambahan bagi tubuh anak.
  3. Daging Olahan dengan Bahan Pengawet:
    • Contoh: Sosis, kornet, nugget, dan ham.
    • Alasan: Beberapa bahan tambahan pangan dan residu hormon pada peternakan konvensional dapat memengaruhi sistem endokrin anak jika dikonsumsi berlebihan.
  4. Minuman/Makanan dengan Pemanis Buatan & Zat Pewarna:
    • Contoh: Soda diet atau permen dengan warna mencolok.
    • Alasan: Beberapa zat kimia tambahan dapat bertindak sebagai Endocrine Disruptors (pengganggu hormon).
  5. Produk Kedelai Berlebihan (Isolat Protein Kedelai):
    • Contoh: Susu kedelai atau olahan kedelai dalam jumlah yang sangat besar setiap hari.
    • Alasan: Kedelai mengandung fitoestrogen. Dalam jumlah wajar (seperti tempe/tahu) sangat baik, namun jika dikonsumsi berlebihan dalam bentuk suplemen/isolat, dapat memengaruhi kadar hormon anak.

Dampaknya bagi Pertumbuhan Tinggi Badan

Ini adalah bagian yang paling sering terabaikan oleh orang tua. Saat pubertas dimulai, anak memang akan mengalami growth spurt (lonjakan pertumbuhan) sehingga mereka tampak lebih tinggi dibanding teman sebayanya. Namun, ini adalah "tinggi semu".

  • Pematangan Tulang yang Cepat: Hormon pubertas menyebabkan pusat pertumbuhan tulang (lempeng epifisis) menutup lebih cepat dari seharusnya.
  • Berhentinya Pertumbuhan Lebih Awal: Karena lempeng pertumbuhan menutup prematur, periode tumbuh anak menjadi lebih singkat. Hasilnya, tinggi badan akhir (final adult height) anak saat dewasa justru cenderung lebih pendek dibandingkan potensi genetik mereka yang sebenarnya.

Dampak Psikososial

Anak yang mengalami pubertas dini sering kali merasa "berbeda" dan asing dengan tubuhnya sendiri. Hal ini dapat memicu:

  • Rasa malu dan krisis kepercayaan diri.
  • Risiko mengalami perundungan (bullying) di sekolah.
  • Ketidakseimbangan antara kematangan fisik dan kematangan emosional.

Tips Sehat:

  • Perbanyak Serat: Sayuran dan buah-buahan membantu mengikat kelebihan hormon di usus dan membuangnya dari tubuh.
  • Pilih Wadah Aman: Hindari memanaskan makanan di wadah plastik (gunakan kaca/keramik) untuk menghindari paparan BPA yang mengganggu hormon.
  • Aktivitas Fisik: Pastikan si Kecil aktif bergerak minimal 60 menit sehari untuk mencegah penumpukan lemak tubuh.

Jika Mom/Dad melihat adanya tanda pubertas sebelum usia yang seharusnya, jangan tunda untuk berkonsultasi ke klinik tumbuh kembang anak. Biasanya pendekatan yang dilakukan meliputi:

  • Evaluasi Usia Tulang (Bone Age): Mengukur sejauh mana pusat pertumbuhan tulang telah menutup.
  • Skrining Nutrisi: Memperbaiki pola makan untuk mengelola berat badan agar tidak memperparah lonjakan hormon.
  • Dukungan Psikologis: Membantu anak memahami perubahan tubuhnya agar kesehatan mentalnya tetap terjaga.

Pubertas prekoks bukan untuk ditakuti, melainkan untuk ditangani dengan tepat. Intervensi dini sangat membantu untuk memaksimalkan potensi tinggi badan anak dan menjaga kesejahteraan emosional mereka.

Foto: Cottonbro Studio/Pexels.com

Referensi:

• IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Pubertas Prekok pada Anak.

• American Academy of Pediatrics (AAP). Early Puberty: Causes and Consequences.

• The Lancet Diabetes & Endocrinology. Global Trends in the Onset of Puberty.

 

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?