Bukan Membangkang, Ini Alasan Mengapa Gen Alpha Suka Asbun!

Dipublikasikan: Sabtu, 23 Mei 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - “Leia, tolong tanyain Papa, pembuka kaleng ditaruh di mana?" teriak seorang ibu pada anak perempuannya yang sedang duduk tak jauh dari kamar kerja ayahnya.

"Nggak tahu, Ma!" sahut putrinya, yang sedang asyik menonton YouTube.

"Iya, tolong tanyain! Mama lagi repot, nih,” pinta sang ibu, yang sedang sibuk memasak.

"Kenapa nggak tanya sendiri? He’s your husband!” tukas Leia, bergeming dari layar smartphone-nya.

Hm… percakapan seperti ini pasti sering terjadi di rumah. Mama kesal karena permintaan sederhana itu tidak ditanggapi sesuai harapan. Tetapi, geli juga dengan jawaban anak yang asal bunyi. Jika neneknya mendengar jawaban seperti itu, anak pasti dianggap tidak sopan, suka melawan, dan tidak patuh pada orang tua.

Namun itulah fenomena yang dihadapi orang tua dengan anak Generasi Alpha. Mereka ini yang lahir dalam kurun waktu antara 2010 hingga 2025. Mereka generasi yang lahir dan tumbuh besar di era digital.

Masa-masa awal pertumbuhan mereka sangat dipengaruhi oleh peristiwa besar seperti pandemi COVID-19. Pengalaman itu mengubah segalanya dalam hidup mereka, mulai dari cara mereka bersekolah hingga cara mereka berteman dan bersosialisasi.

Yang unik, ada kesamaan di antara mereka: suka asbun kalau ngomong. Apa yang menyebabkan Gen Alpha sering ngomong sesukanya? Bagaimana cara berkomunikasi tanpa salah pengertian dengan mereka?

Perilaku yang Disalahartikan

Banyak orang menganggap anak-anak Gen Alpha cenderung tidak sopan, bahkan kurang ajar, dibanding generasi sebelumnya. Anggapan tersebut sebenarnya muncul karena perubahan zaman, bukan karena sifat bawaan anak-anak itu sendiri.

Sejak kecil, anak-anak Gen Alpha sudah biasa terpapar informasi dan teknologi. Mereka menggunakan gadget untuk main game, berbagi informasi, mengerjakan tugas-tugas di sekolah, dan bersosialisasi melalui media sosial. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi orang tua mereka dari Generasi Milenial, yang secara rutin membagikan kehidupan mereka di media sosial.

Kebiasaan tersebut sebenarnya memberikan keuntungan tersendiri. Mereka jadi percaya diri, lebih kritis, lebih cepat tahu ide-ide dan masalah di dunia luar. Kebiasaan Gen Alpha mengonsumsi konten video secara intens juga menumbuhkan rasa percaya terhadap para kreator konten dan influencer media sosial. Cara influencer mengutarakan pendapat lalu menumbuhkan perilaku yang sama pada Gen Alpha.

Namun, sikap yang kritis dan selalu blak-blakan inilah yang sering kali disalahartikan orang tua dari Gen X atau Baby Boomers sebagai bentuk ketidakpatuhan atau kurangnya rasa hormat terhadap nilai-nilai tradisional. Padahal, sikap membangkang itu menjadi cara Gen Alpha untuk memahami alasan di balik suatu keputusan.

Ketika membantah orang tua, mereka sebenarnya sedang mempertanyakan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Kalau generasi lama langsung menjawab, “Baik, Pak”, atau “Ya, Bu”, Gen Alpha malah bertanya, “Kenapa kok harus pakai cara itu? Saya mau pakai cara saya sendiri.”

Kecenderungan anak untuk mendebat atau enggan mengikuti apa yang diminta orang tua itu juga merupakan cara untuk menunjukkan bahwa mereka punya kendali atas diri mereka sendiri.

Cara Mendukung Anak Generasi Alpha

Sifat anak-anak Gen Alpha yang cenderung kritis dan berani sebenarnya bisa menjadi modal kekuatan yang luar biasa jika Mama-Papa mengarahkannya dengan benar. Sikap itulah yang bisa membuat mereka tumbuh menjadi pemimpin yang punya empati tinggi dan mampu bekerja sama.

Orang tua punya peran penting untuk mengarahkan sifat kritis dan berani tersebut menjadi sesuatu yang positif. Caranya bisa melalui beberapa langkah ini:

Contohkan cara bicara yang sopan. Tunjukkan kepada anak cara menyampaikan pendapat dengan jelas, tapi tetap menghargai sudut pandang orang lain yang berbeda.
Ajarkan jadi pendengar yang baik. Biasakan anak untuk benar-benar mendengarkan penjelasan orang lain dulu sebelum mereka memotong atau meresponsnya.
Biasakan kerja sama. Ingatkan anak bahwa kerja tim dan saling menghargai itu penting banget untuk mencapai tujuan bersama.
Asah rasa empati. Bantu anak untuk belajar melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain agar kecerdasan emosional mereka makin terasah.
Tetapkan batasan. Ajarkan bedanya menjadi anak yang tegas dengan anak yang suka memaksa, bedanya berjiwa kuat dengan menjadi keras kepala, serta bedanya menghargai diri sendiri dengan sombong.

Mama-Papa juga perlu mengingat, setiap generasi pasti punya kelebihan dan tantangannya tersendiri. Suka asbun itu bukan masalah kurang sopan atau lebih sopan daripada generasi sebelumnya, melainkan soal memahami dunia tempat mereka tumbuh besar sekarang. Setelah itu, bantu anak berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Referensi:

1. Parents
2. AECF
3. NCBI
4. Psychology Today

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?