Benarkah Screen Time Berlebihan Dapat Menyebabkan Anak Terlambat Berbicara?

Dipublikasikan: Jumat, 22 Mei 2026

Waktu membaca: 3 menit

Penulis: Dini Felicitas

Editor: Dini Felicitas

MyKidz - Menjadi orang tua baru di era digital seperti sekarang memang penuh tantangan. Sadar atau tidak, gawai seperti smartphone, tablet, hingga televisi sudah menjadi bagian dari cara kita mengasuh anak. 

Di satu sisi, teknologi ini memudahkan anak mengakses informasi dan konten edukasi. Di sisi lain, ada kekhawatiran besar mengenai dampaknya terhadap kemampuan bicara dan bahasa si kecil.

Sejumlah penelitian sudah menunjukkan adanya kaitan erat antara screen time (waktu yang dihabiskan untuk mengonsumsi konten) yang berlebihan dengan keterlambatan bicara (speech delay) pada anak. Mengapa hal ini bisa terjadi? 

Dampak pada Anak di Bawah 2 Tahun

Teori utamanya adalah karena interaksi tatap muka antara anak dan orang tua jadi tergantikan oleh gadget. Padahal, fondasi kemampuan anak berbahasa sangat bergantung pada komunikasi dua arah yang responsif di rumah.

Semakin banyak anak menghabiskan waktu di depan layar, semakin berkurang kemampuan bahasa mereka. Berdasarkan riset, paparan media elektronik yang terlalu lama terbukti menurunkan kemampuan bahasa anak. 

Penelitian secara terpisah dari peneliti di Pakistan dan Saudi Arabia tahun 2023 sama-sama menyimpulkan bahwa dampak screen time paling terasa pada anak di bawah usia dua tahun. Pada masa ini, otak anak sedang berkembang pesat dan sangat membutuhkan interaksi langsung dengan orang tua atau pengasuhnya. 

Paparan layar yang terlalu dini akan menggantikan interaksi tatap muka yang lebih penting, sehingga menghambat proses alami anak dalam belajar bicara dan memahami bahasa.

Sebaliknya, anak yang baru mengenal gawai setelah usia 2 tahun justru menunjukkan perkembangan bahasa yang lebih positif.

Pentingnya Screen Time Aktif

Salah satu poin penting yang juga muncul dari kedua penelitian tersebut adalah perbedaan antara screen time aktif dan pasif. Penggunaan konten aktif, seperti bermain game edukatif secara terkontrol (dengan pendampingan orang tua), lebih disarankan untuk membantu anak belajar secara interaktif. 

Sementara screen time pasif (seperti menonton video atau kartun) dan tanpa pendampingan Mama-Papa cenderung berdampak negatif. Konsumsi konten secara pasif inilah yang lebih berisiko menimbulkan speech delay

Anak di bawah usia 12 bulan yang menonton televisi lebih dari dua jam per hari juga punya kemungkinan lebih besar mengalami gangguan perkembangan bahasa. Bahkan, setiap tambahan waktu 30 menit akan meningkatkan risiko keterlambatan bahasa ekspresif hingga 49 persen. Oleh karena itu, kualitas konten sama pentingnya dengan durasi.

Jangan lupa juga dampak pandemi COVID-19, di mana anak-anak lebih banyak belajar melalui perangkat digital. Situasi ini memperburuk masalah keterlambatan bicara karena berkurangnya interaksi tatap muka. Screen time secara berlebihan juga menimbulkan dampak lain seperti gangguan motorik, obesitas, kurang tidur, kecemasan, hingga masalah penglihatan dan pendengaran.

Cara Mengatasi Dampak Screen Time

Meski begitu, dampak negatif ini bisa diperbaiki. Kedua penelitian memberikan saran yang sejalan buat Mama-Papa untuk mengatasi dampak screen time pada anak:

• Batasi durasi menonton sesuai usia. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar anak di bawah dua tahun tidak menggunakan layar lebih dari 1–2 jam per hari. Lebih sedikit, lebih baik.
• Tunda pemberian perangkat pintar hingga anak berusia di atas 24 bulan. 
• Jika sudah terlanjur, hentikan penggunaan gadget sepenuhnya selama enam bulan berturut-turut. Cara ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan bicara anak secara signifikan.
• Fokus pada interaksi tatap muka, dengan sering-sering ngobrol dengan anak, membaca buku bersama, bernyanyi, bermain, dan melakukan aktivitas fisik di luar rumah.
• Gunakan media interaktif edukatif dengan pendampingan orang tua yang memungkin anak melakukan tugas-tugas atau permainan.
• Lakukan co-viewing atau menonton bersama anak agar pengalaman media lebih positif, berkualitas, dan sesuai usia. Nonton bareng atau menggunakan aplikasi edukatif sambil ngobrol dapat membantu memperkuat kemampuan bahasa anak.
• Ciptakan kebiasaan sehat dengan komunikasi secara rutin, dan melakukan aktivitas fisik bersama si kecil untuk menyeimbangkan penggunaan gadget mereka.

Gawai itu tidak selalu harus dihindari kok, Mam, asalkan kita tahu batasan dan cara menggunakannya. Jangan biarkan handphone atau tablet menggantikan peran kita untuk mengobrol, bermain, dan bercerita dengan si kecil. Interaksi nyata dengan orang tualah yang akan menjadi guru terbaik bagi perkembangan bicara, bahasa, dan aspek perkembangan anak lainnya.

Referensi:
1. Impact of Screen Time on Speech and Language Acquisition among Children.
2. Relationship Between Speech Delay and Smart Media in Children: A Systematic Review

Punya pertanyaan lain seputar layanan kami?